Saturday, March 2, 2013

Aspek Psikologis Atlet Bola Voli

Aspek psikologis merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembinaan atlet olahraga bola voli. Hal ini didasarkan pada beberapa anggapan yang menyatakan bahwa faktor non-fisik akan besar pengaruhnya terhadap prestasi atlet untuk dapat memenangkan pertandingan.
Aspek-aspek psikologis dalam olahraga secara garis besar meliputi motivasi, kepribadian, kepercayadirian, kedisiplinan, stress, kecemasan dan frustrasi. Aspek-aspek psikologis tersebut memberikan pengaruh yang beragam terhadap penampilan atlet bahkan terhadap prestasi yang dapat dicapai oleh atlet.
Motivasi berperan dalam menumbuhkan kemauan dalam diri atlet yang didukung oleh lingkungan untuk mencapai target yang ditetapkan. Adanya motivasi untuk bertanding dan bermain sebaik mungkin merupakan awal yang baik, apalagi didukung oleh lingkungan yang memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada atlet untuk menunjukkan kemampuannya secara maksimal. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Cofer dan Appley (1968:8) bahwa, “Motivation as the process of arousing action, sustaining the activity in progress, and regulating the pattern of activity.” Penjelasan tersebut mengandung makna bahwa motivasi merupakan proses mengatur pola aktivitas. Pengertian mengatur pola aktivitas manusia dapat juga berarti mendorong seseorang untuk bertindak atau tidak bertindak. Oleh karena itu dengan kemauan yang keras (motivasi yang tinggi) maka seorang atlet akan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mencapai tujuan.
Kepribadian merupakan sesuatu yang sulit untuk diamati, karena wujudnya hanya tercermin dalam cita-cita, watak, sikap, sifat-sifat dan perbuatannya. Oleh karena itu untuk memahami kepribadian seorang atlet dapat dilakukan diantaranya dengan mengamati sifat-sifat dan sikapnya.
Setyobroto (1989:36) menyatakan, “Sifat-sifat kepribadian bukanlah hal yang bersifat tetap, tetapi dapat berubah dan dapat dipengaruhi.” Magnusson dan Endler (Setyobroto, 1989:37) menyatakan, “Faktor-faktor kognitif merupakan determinan penting dari tingkah laku, meskipun faktor-faktor emosional juga tidak boleh diabaikan.” Selanjutnya Morgan (Setyobroto, 1989:37) menyatakan, “Dalam proses interaksi maka untuk memahami kepribadian seseorang harus diutamakan mengetahui persepsinya dan hal-hal yang berhubungan dengan kognisinya.” Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kepribadiannya, sedangkan kepribadian itu sendiri dominan dipengaruhi oleh kemampuan kognitif. Mengenai pentingnya kepribadian dalam proses pembinaan atlet oleh Setyobroto (1989:37) dijelaskan, “Penelitian tentang personality traits atau sifat-sifat kepribadian dalam olahraga dilakukan untuk lebih memahami kepribadian atlet, sehingga dapat memprediksi kemungkinan tingkah laku dan penampilan atlet menghadapi situasi tertentu dalam pertandingan.” Hasil penelitian Ogilvie (Setyobroto, 1989:36) melaporkan bahwa kepribadian para atlet berubah setelah mengikuti program pembinaan, yaitu: “1) Self-controlnya lebih baik, sehingga lebih dapat menguasai diri, 2) Kemampuan menolak kecemasan lebih tinggi, 3) Tampak lebih gembira dan bahagia dalam menghadapi suatu keadaan.”
            Percaya diri merupakan modal utama seorang atlet untuk dapat maju, karena pencapaian prestasi yang tinggi dan pemecahan rekor atlet itu sendiri harus dimulai dengan percaya bahwa ia dapat dan sanggup melampaui prestasi yang pernah dicapainya.
            Eksistensi diri merupakan wujud pembuktian seseorang untuk mendapat pengakuan dari lingkungan tentang keberadaan dan kontribusinya terhadap lingkungan. Pengakuan dari lingkungan merupakan hal penting, karena menyangkut partisipasi dan penghargaan yang akan diterima. Dalam dunia olahraga pengakuan lingkungan terhadap eksistensi seorang atlet sangat dibutuhkan karena lingkungan dapat berpengaruh positif dan negatif terhadap kondisi dan keberadaan atlet.

No comments:

Post a Comment