Tuesday, June 9, 2009

Profil Kompetensi Instruktur Senam Aerobik

A. Hakikat Olahraga
1. Pengertian Olahraga
Olahraga merupakan salah satu kegiatan yang sudah dikenal dan sering dilakukan manusia. Berbagai jenis kegiatan olahraga bisa dipilih dan dilakukan oleh manusia. Mulai dari jenis olahraga yang murah dan mudah melakukannya sampai olahraga yang memerlukan biaya yang besar.
Istilah olahraga jika ditinjau dari asal kata, terdiri dari dua kata yaitu kata ”Olah” dan kata “Raga” arti dari kedua kata tersebut diterangkan oleh Dirjen PLS dan Olahraga (1977:23) adalah sebagai berikut:

Olahraga terdiri dari dua kata yaitu kata olah dan raga, kata olah disini berarti mengolah, meramu, mengurus, memasak, atau mematangkan serta membina materi yaitu bahan atau potensi. Kata raga bukan berarti semata-mata berarti badan, tetapi terdiri dari raga badag dan raga halus. Antara raga badag dan raga halus atau lazimnya dikenal dengan jasmani dan rohani tidak dapat terpisahkan atau dibagi. Tiap individu itu harus berfikir dan bertindak secara keseluruhan.

Kata olahraga terwujud dari kata sport yang berasal dari bahasa Latin disportare. Dis sama dengan terpisah dan portare sama dengan membawa, jadi disportare mengandung pengertian membawa dirinya terpisah dari gangguan. Dalam bahasa Perancis kuno ditemukan istilah desport yang berarti bersenang-senang. Depdikbud (1984:7) memberikan pengertian olahraga dari beberapa sumber sebagai berikut:
1. Kamus Bahasa Indonesia: olahraga adalah gerak badan, olah berarti laku/perbuatan, sedangkan raga berarti badan.
2. Ensiklopedia Indonesia: olahraga adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan.
3. Kamus Pendidikan: olahraga adalah berbagai latihan berbentuk permainan, biasanya dilakukan diluar rumah atau dilapangan terbuka.
4. KEPRES 131 tahun 1962: olahraga mempunyai arti yang seluas-luasnya yang meliputi segala kegiatan/usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan, dan membina kekuatan-kekuatan jasmani maupun rohani pada setiap manusia.
5. Musornas Olahraga I: olahraga adalah kegiatan manusia yang wajar yang diperlukan dalam kehidupannya dengan kodrat Illahi.
Ditinjau dari sudut Ilmu Faal, Giriwijoyo (1995:7) menjelaskan bahwa, “Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan fungsional raga agar menjadi sesuai dengan persyaratan atau tujuan tertentu yang dikehendakinya.”
Berbagai pengertian olahraga telah dikemukakan dari ahli, sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa olahraga adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara teratur dan terencana yang bertujuan untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan baik jasmani maupun rohani.

2. Karakteristik Olahraga
Olahraga sering diartikan sebagai rangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu. Lutan (1991:13) mengemukakan tentang ciri hakiki dalam olahraga sebagai berikut: “1) Olahraga merupakan sub bagian dari permainan, 2) Olahraga berorientasi pada kegiatan jasmani dalam wujud keterampilan motorik, daya tahan, kekuatan, dan kecepatan, 3) Olahraga sebagai sebuah realitas, 4) Prinsip prestasi dalam olahraga, dan 5) Aspek sosial dalam olahraga.”
Olahraga dapat dibedakan berdasarkan beberapa sudut pandang, salah satunya dari tujuan dalam melakukan olahraga itu sendiri. Mengenai tujuan olahraga dikemukakan oleh Giriwijoyo (1995:8) sebagai berikut:

Olahraga dibagi menjadi:
1. Olahraga profesi yaitu olahraga yang diselenggarakan untuk tujuan mata pencaharian
2. Olahraga prestasi yaitu olahraga yang diselenggarakan untuk tujuan pencapaian prestasi maximal dalam suatu cabang olahraga. Merupakan jenis-jenis olahraga pertandingan.
3. Olahraga rekreasi yaitu olahraga yang diselenggarakan untuk tujuan kegembiraan dan menghilangkan ketegangan.
4. Olahraga kesehatan yaitu olahraga yang diselenggarakan untuk tujuan pemeliharaan dan atau peningkatan derajat kesehatan.
5. Olahraga pendidikan yaitu olahraga yang diselenggarakan untuk tujuan pendidikan.

Lutan (1991:16) menjelaskan, “Analisis tentang ciri hakiki olahraga dapat dilakukan berdasarkan 1) tujuan, 2) alat yang dipakai untuk mencapai tujuan, 3) peraturan, 4) keterlaksanaan berdasarkan kemampuan yang berorientasi pada jasmani atau keterampilan, dan 5) sikap si pelaku.”
Ditinjau dari jenis atau bentuknya, olahraga dapat dibedakan menjadi olahraga atletik, olahraga permainan, olahraga air, olahraga beladiri dan olahraga senam. Masing-masing jenis olahraga tersebut mempunyai bagian lainnya, seperti olahraga atletik dapat dibedakan menjadi nomor jalan, lari, lempar dan lompat. Olahraga permainan dapat dibedakan menjadi olahraga permainan bola besar dan bola kecil. Olahraga air dapat dibedakan menjadi olahraga renang, loncat indah, polo air, menyelam, dan dayung. Olahraga beladiri dapat dibedakan menjadi berbagai jenis olahraga beladiri seperti pencak silat, karate, tae kwon do, judo, gulat dan tinju. Olahraga senam dapat dibedakan menjadi senam artistik, senam ritmik dan senam umum.

B. Hakikat Olahraga Senam Aerobik
1. Pengertian Olahraga Aerobik
Aerobik dapat diartikan sebagai bekerja dengan oksigen. Lutan (2002:46) menjelaskan, “Istilah aerobik digunakan untuk menyatakan pengertian yang meliputi pemasukan, pengangkutan, dan pemanfaatan oksigen.”
Dalam melakukan suatu kegiatan olahraga/gerak/kerja, terdapat dua mekanisme penyediaan energi untuk mendukung hal tersebut, yaitu: a) Olahdaya anaerob yang langsung mewujudkan gerak dan merupakan kemampuan endogen Ergosistema I khususnya otot, dan b) Olahdaya aerob yang juga dilaksanakan oleh Ergosistema I (otot), namun bergantung pada kemampuan fungsional Ergosistema II khususnya kerja jantung dan paru-paru.
Maksudnya tanpa peran serta Ergosistema II, olahdaya aerob tak mungkin terlaksana dan aktivitas gerak Ergosistema I akan segera terhenti. Jadi makin tinggi kemampuan fungsional Ergosistema II, makin tegar kelangsungan penampilan Ergosistema I.
Olahdaya anaerob adalah olahdaya yang tidak membutuhkan oksigen, sedangkan olahdaya aerob adalah olahdaya yang membutuhkan oksigen. Mengenai hal ini dijelaskan oleh Giriwijoyo (1991:62) sebagai berikut:

Olahdaya anaerob dan aerob harus selalu seimbang. Ketidakmampuan olahdaya aerob mengimbangi olahdaya anaerob akan menyebabkan “zat kelelahan” bertumpuk. Akibatnya, intensitas kerja akan berkurang. Dengan kata lain, jika kemampuan olahdaya aerob rendah maka kemampuan kerja rendah. Kemampuan olahdaya aerob terbesar yang dimiliki seseorang disebut kapasitas aerobik.
Oleh karena olahdaya anaerob dan aerob harus selalu seimbang baik dalam keadaan istirahat maupun kerja, maka tidak ada olahraga anaerob dan aerob yang murni. Yang ada adalah olahraga yang dominan faktor anaerob ataupun aerob. Berkenaan dengan olahraga anaerob dan aerob, Giriwijoyo (1991:63) menjelaskan:

Olahraga aerob, bila selama penampilannya minimal sekitar 2/3 atau 70% dari seluruh energi yang digunakan disediakan melalui olahdaya aerob.
Olahraga anaerob, bila selama penampilannya minimal sekitar 2/3 atau 70% dari seluruh energi yang digunakan disediakan melalui olahdaya anaerob.

Tangkudung (2004:4) menjelaskan, “Pada dasarnya latihan olahraga dapat dibagi menjadi dua yaitu latihan aerobik dan latihan anaerobik. Latihan aerobik adalah latihan yang menuntut oksigen tanpa menimbulkan hutang oksigen yang tidak terbayar. Aerobik berarti menggunakan oksigen.”
Giriwijoyo (1991:63) menjelaskan pembagian jenis olahraga aerob dan anaerob berdasarkan waktu sebagai berikut: “1) 0 – 2 menit, anaerob dominan, contoh: lari cepat hingga 800 meter, 2) 2 – 8 menit, anaerob + aerob, contoh: lari antara 800 – 3000 meter, dan 3) 8 menit lebih, aerob dominan, contoh: lari 3000 meter ke atas.” Kemudian Tangkudung (2004:4) menjelaskan:

Olahraga yang berlangsung secara kontinyu lebih dari empat menit dan dilakukan dengan intensitas rendah termasuk golongan aerobik. Jadi olahraga aerobik bukan hanya senam aerobik, tetapi masih banyak jenis olahraga lainnya, seperti bersepeda, berenang, jalan cepat dan lari lintas alam.


Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan atau suatu aktivitas dinyatakan sebagai aktivitas aerobik jika 70% penampilannya menggunakan olahdaya aerob dan waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas/penampilannya lebih dari 8 menit.
2. Pengertian Senam Aerobik
Olahraga senam aerobik merupakan salah satu jenis olahraga kebugaran yang sangat diminati oleh hampir sebagian besar masyarakat, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini dikarenakan olahraga senam aerobik merupakan olahraga yang dapat dilakukan secara massal, murah, meriah, menyenangkan dan memberikan manfaat yang langsung dan nyata.
Olahraga senam aerobik dapat digolongkan menjadi olahraga kesehatan, karena ciri-ciri umum dalam olahraga kesehatan terpenuhi oleh olahraga senam aerobik. Mengenai ciri umum olahraga kesehatan dijelaskan oleh Giriwijoyo (1995:5) sebagai berikut:

1. Massal: olahraga kesehatan dapat diikuti sejumlah besar orang secara serentak
2. Mudah: gerakan olahraga kesehatan mudah diikuti dan dapat dilakukan dengan baik oleh anak-anak, dewasa maupun manula
3. Murah: tidak memerlukan peralatan maupun ruangan khusus untuk pelaksanaannya
4. Meriah: membangkitkan suasana santai dan gembira, bebas stress dan memungkinkan silaturahmi yang lebih baik
5. Manfaat dan aman: manfaatnya dapat dirasakan baik lahir maupun batin serta kecil kemungkinan terjadinya cedera

Olahraga senam aerobik itu sendiri sering diartikan sebagai olahraga yang gerakannya dipilih dan dilakukan sesuai dengan keinginan pelakunya dan menggunakan iringan musik. Tangkudung (2004:5) menjelaskan, “Senam aerobik adalah serangkaian gerak yang dipilih secara sengaja dengan cara mengikuti irama musik yang juga dipilih sehingga melahirkan ketentuan ritmis, kontinuitas, dan durasi tertentu.”
Pada umumnya senam aerobik ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani, khususnya kerja jantung dan paru-paru. Tangkudung (2004:5) menjelaskan, “Senam aerobik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru serta pembentukan tubuh. Gerakan-gerakan yang dipilih tentu saja harus mengandung nilai yang diperlukan untuk kedua tujuan tersebut.”
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa senam aerobik merupakan jenis olahraga kesehatan. Namun dalam perkembangannya, senam aerobik juga dilombakan untuk tujuan prestasi. senam aerobik ditujukan untuk tujuan meningkatkan kerja jantung dan paru-paru serta pembentukan tubuh.

3. Karakteristik Olahraga Senam Aerobik
Setiap olahraga mempunyai ciri khas dan aturan tertentu dalam pelaksanaannya, sehingga hal tersebut dijadikan sebagai daya beda dari olahraga lainnya. Karakteristik olahraga senam aerobik diantaranya adalah mempunyai tujuan untuk meningkatkan kerja jantung dan paru-paru, pembentukan tubuh, dan menggunakan irama musik. Berkaitan dengan hal ini, Tangkudung (2004:5) menjelaskan sebagai berikut:

1. Gerakan yang dipilih harus mampu menyebabkan denyut jantung meningkat sedemikian rupa ke target latihan atau zona latihan
2. Gerakan yang dipilih harus mengandung kalestenik yang memenuhi tuntutan teknik dan dan ketentuan anatomis tertentu
3. Irama musik mempunyai 2 sisi yang sama penting. Di satu sisi musik bertindak sebagai patokan kecepatan, di sisi lain musik bertindak sebagai panjaga motivasi serta semangat dari para pelakunya agar tetap on

Seperti halnya olahraga pada umumnya, dalam senam aerobik pun mengikuti ketentuan yang sudah diterima secara umum, yaitu sistematika latihan yang meliputi latihan pemanasan, latihan inti dan latihan pendinginan. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai sistematika latihan senam aerobik yang dijelaskan oleh Tangkudung (2004:7) sebagai berikut:

1. Pemanasan (Warm-up)
Kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan yang pelaksanaannya mengandung unsure sebagai berikut:
a. Peningkatan suhu tubuh dan secara bertahap meningkatkan jumlah denyut nadi, dari denyut nadi istirahat ke denyut nadi latihan. Peningkatan suhu tersebut biasanya dilakukan dengan gerakan, seperti jalan di tempat atau gerakan dasar yang sederhana seperti mengayunkan kepala ke samping kiri dan kanan dan gerakan lengan atau kaki yang sederhana
b. Peningkatan elastisitas otot dan ligamentum di sekitar persendian. Latihan untuk meningkatkan elastisitas otot dan ligamentum ini dapat dilakukan dengan gerakan peregangan terhadap kelompok otot besar yang ditahan dalam waktu tertentu. Pelaksanaannya harus dilakukan secara perlahan-lahan dan tidak terlampau memaksakan.
c. Untuk mempersiapkan tubuh baik fisik maupun mental ke aktivitas yang dilaksanakan
2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti biasanya merupakan gerakan yang sudah lebih aktif dan melibatkan gerakan yang disiplin untuk melatih bagian tubuh tertentu dengan pengulangan yang cukup. Kegiatan ini hendaknya mengikuti alur tertentu yang sudah direncanakan sebelumnya, gerakan yang dipilih dinilai dari bagian atas tubuh ke bawah atau dari bagian kepala, bahu, lengan, pinggang ke gerakan gabungan. Biasanya pelaksanaan dari bagian inti ini bergerak secara progresif, yaitu dari tahap gerakan tunggal bagian tubuh hingga pergerakan bagian tubuh secara bersamaan
3. Pendinginan (Cooling-down)
Kegiatan tahap akhir dari senam aerobik ini harus melakukan gerakan-gerakan yang menurunkan frekuensi denyut nadi untuk kembali mendekati denyut nadi yang normal. Pelaksanaan gerakan pendinginan ini harus merupakan penurunan secara bertahap dari gerakan dengan intensitas tinggi ke gerakan yang berintensitas rendah. Ditinjau dari segi faal tubuh, perubahan gerakan yang bertahap tadi berguna untuk menghindari penumpukan asam laktat yang menyebabkan kelelahan dan rasa pegal pada otot di tempat tertentu. Dengan demikian proses pendinginan ini dimaksudkan untuk mengurangi penumpukan dari aam laktat yang merupakan sisa pembakaran dalam otot

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan senam aerobik yaitu intensitas latihan, frekuensi latihan, dan lamanya latihan.

C. Hakikat Kompetensi
1. Pengertian
Kompetensi sering diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam hal tertentu. Kemampuan ini akan mencerminkan tingkat penguasaan seseorang terhadap sesuatu yang dilakukannya dengan acuan tertentu. Seperti aspek pengetahuan, melalui uji kompetensi maka tingkat pengetahuan seseorang akan tergambar dengan indikator-indikator pengetahuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini kompetensi menggambarkan tingkat pencapaian tujuan dari suatu aktivitas. Berkenaan dengan hal ini, Yamin (2005:127) menjelaskan, “Kompetensi adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh seseorang pada tahap pengetahuan, keterampilan dan sikap.”

2. Unsur-unsur Kompetensi
Kompetensi sebagai suatu kemampuan mengindikasikan adanya unsur-unsur yang harus dipenuhi yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif). Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa seseorang mempunyai kompetensi terhadap suatu bidang, jika orang yang bersangkutan mempunyai pengetahuan yang memadai tentang bidang tersebut, mempunyai keterampilan untuk menerapkan pengetahuannya dalam wujud nyata, dan mempunyai sikap yang baik dalam melaksanakan tugas-tugas bidangnya.
Dalam konteks pendidikan, Bloom (1974) dalam Makmun (2005:26) mengemukakan sebagai berikut: “Dalam rangka mengembangkan perangkat tujuan-tujuan pendidikan yang berorientasi pada perilaku (behavioral objectives) yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable) secara ilmiah (scientific), taksonomi perilaku dibagi dalam tiga kategori yaitu: 1) the cognitive domain, the affective domain, dan 3) the psychomotor domain.” Penjelasan tersebut memberikan makna bahwa kompetensi seseorang dapat diindikasi melalui perilakunya, baik dalam domain kognitif, psikomotorik maupun afektif.
1) Pengetahuan (Kognitif)
Domain kognitif menitikberatkan pada proses intelektual dan proses berfikir seorang individu. Hamalik (1995:80), Nasution (1999:49) dan Yamin (2005:28) membagi jenjang-jenjang domain kognitif sebagai berikut:

a. Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan merupakan pengingatan bahan-bahan yang telah dipelajari, mulai dari fakta sampai dengan teori yang menyangkut informasi yang bermanfaat, seperti: fakta-fakta, metode dan prosedur, konsep dan prinsip.
b. Pemahaman (comprehension). Pemahaman adalah abilitet untuk menguasai pengertian. Pemahaman tampak pada alih bahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya, penafsiran, dan memperkirakan, seperti memahami fakta dan prinsip.
c. Penerapan (application). Penerapan adalah abilitet untuk menggambarkan bahan yang telah dipelajari ke dalam situasi baru yang nyata, meliputi: aturan, metode, konsep, prinsip dan teori.
d. Analisis (analysis). Analisis adalah abilitet untuk merinci bahan menjadi bagian-bagian supaya struktur organisasinya mudah dipahami, meliputi identifikasi bagian-bagian, mengkaji hubungan antar bagian-bagian, mengenali prinsip-prinsip organisasi.
e. Sintesis (synthesis). Sintesis adalah abilitet mengkombinasikan bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan baru, yang menitikberatkan pada tingkah laku kreatif dengan cara memformulasikan pola dan struktur baru.
f. Evaluasi (evaluation). Evaluasi adalah abilitet untuk mempertimbangkan nilai bahan untuk maksud tertentu berdasarkan kriteria internal dan eksternal.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa kompetensi seorang individu terhadap bidang yang dikerjakannya dapat diindikasi, salah satunya melalui perilaku kognitif yang meliputi tingkat pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi bidang tugasnya.

2) Keterampilan (Psikomotorik)
Domain psikomotorik menitikberatkan pada aspek gerakan-gerakan jasmaniah dan kontrol jasmaniah. Yamin (2005:37) menjelaskan, “Kawasan psikomotor adalah kawasan yang berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot.”
Mengenai jenjang-jenjang domain psikomotorik dijelaskan oleh Singer dan Dick (1974) dalam Hamalik (1995:82) sebagai berikut:

a. Contacting, manipulating, and/or moving an object
b. Controlling the body or object, as in balancing
c. Moving and/or controlling the body or parts of the body in space in a brief timed act or sequence under predictable and/or unpredictable conditions
d. Making controlled, appropriate sequential movements (not time restricted) in a predictable and/or unpredictable and changing situation

Sedangkan menurut Simpson (1966) dalam Hamalik (1999:82) dijelaskan sebagai berikut:

a. Persepsi (perception). Penggunaan lima organ indera untuk memperoleh kesadaran tentang tujuan dan untuk menerjemahkannya menjadi tindakan (action)
b. Kesiapan (set). Dalam keadaan siap untuk merespon secara mental, fisik dan emosional
c. Respon terbimbing (guided response). Bantuan yang diberikan kepada individu melalui pertunjukkan peran model
d. Mekanisme. Respon fisik yang telah dipelajari menjadi kebiasaan
e. Respon yang unik (complex overt response). Suatu tindakan motorik yang rumit dipertunjukkan dengan terampil dan efisien.
f. Adaptasi (adaption). Mengubah respon-respon dalam situasi-situasi yang baru
g. Originasi. Menciptakan tindakan-tindakan baru

Nasution (1999:50) menjelaskan tentang jenjang-jenjang dalam domain psikomotorik sebagai berikut:

a. Melakukan gerakan fisik
b. Menunjukkan kemampuan perceptual secara visual, auditif, taktikal, kinestetik, serta mengkoordinasi seluruhnya
c. Memperlihatkan kemampuan fisik yang mengandung ketahanan, kekuatan, kelenturan, kelincahan, dan kecepatan bereaksi
d. Melakukan gerakan yang terampil serta terkoordinasi dalam permainan, olahraga dan kesenian
e. Mengadakan komunikasi non-verbal yakni dapat menyampaikan pesan melalui gerak muka, gerakan tangan, penampilan dan ekspresi kreatif

Yamin (2004:38) mengelompokkan ranah psikomotorik dalam empat kategori sebagai berikut:

a. Gerakan seluruh badan (gross body movement)
b. Gerakan yang terkoordinasi (coordination movement)
c. Komunikasi non verbal (non verbal communication)
d. Kebolehan dalam bicara (speech behaviour)

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jenjang-jenjang dalam domain psikomotorik tidak bersifat tersusun atau berjenjang seperti halnya domain kognitif. Hal ini berarti seorang individu dapat melakukan ranah psikomotorik secara acak bergantung pada kemampuannya masing-masing. Seperti halnya seseorang yang hanya mampu melakukan gerakan seluruh badan saja, atau bahkan dapat melakukan gerakan yang terkoordinasi tetapi kemampuan dalam bicaranya kurang. Sebaliknya mempunyai kebolehan dalam bicara tetapi tidak mampu melakukan gerakan secara terkoordinasi.
Kemampuan motorik ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan gerak atau keterampilan seorang individu dalam suatu tugas fisik. Dalam hal ini kompetensi seorang individu dapat terlihat dari perilaku psikomotoriknya, khususnya kualitas gerak saat melaksanakan tugas geraknya.

3) Sikap (Afektif)
Domain afektif meliputi sikap, perasaan, emosi, dan karakteristik moral yang merupakan aspek-aspek penting perkembangan individu. Berkenaan dengan hal ini, Yamin (2004:32) menjelaskan, “Kawasan afektif merupakan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu.” Selanjutnya Hamalik (1995:81) mengemukakan sebagai berikut:

Hierarki matra afektif, meliputi:
a. Penerimaan (receiving); suatu keadaan sadar, kemauan untuk menerima, perhatian, terpilih.
b. Sambutan (responding); suatu sikap terbuka ke arah sambutan, kemauan untuk merespon, kepuasan yang timbul karena sambutan.
c. Menilai (valuing); penerimaan nilai-nilai, preferensi terhadap suatu nilai, membuat kesepakatan sehubungan dengan nilai.
d. Organisasi (organization); suatu konseptualisasi tentang suatu nilai, suatu organisasi dari suatu system nilai.
e. Karakterisasi dengan suatu komplek nilai; suatu formasi mengenai perangkat umum, suatu manifestasi daripada komplek nilai.

Kemudian Nasution (1999:50) menjelaskan tentang domain afektif sebagai berikut:

Ranah afektif berkenaan dengan kesadaran akan sesuatu, perasaan, dan penilaian tentang sesuatu. Ranah afektif meliputi:
a. Memperhatikan, menunjukkan minat, sadar akan adanya suatu gejala, kondisi, situasi atau masalah tertentu
b. Merespon atau memberi reaksi terhadap gejala, situasi atau kegiatan itu sambil merasa kepuasan
c. Menghargai, menerima suatu nilai, mengutamakannya, bahkan menaruh komitmen terhadap nilai tersebut
d. Mengorganisasi nilai dengan mengkonsepsualisasi dan mensistematisasinya dalam pikiran
e. Mengkarakterisasi nilai-nilai, menginternalisasinya, menjadikannya bagian dari pribadinya dan menerimanya sebagai falsafah hidup

Yamin (2004:33) mengemukakan tentang domain afektif yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Tingkat Menerima (Receiving)
Menerima di sini diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika
b. Tingkat Tanggapan (Responding)
Tangapan atau jawaban mempunyai beberapa pengertian, antara lain:
1) Tanggapan dilihat dari segi pendidikan diartikan sebagai perilaku baru dari sasaran didik sebagai manifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat belajar
2) Tanggapan dilihat dari segi psikologi perilaku adalah segala perubahan perilaku organisme yang terjadi atau timbul karena adanya perangsang dan perubahan tersebut dapat diamati
3) Tanggapan dilihat dari segi adanya kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu kejadian dengan cara berpartisipasi dalam berbagai bentuk
c. Tingkat Menilai (Evaluating)
Menilai dapat diartikan sebagai:
1) Pengakuan secara objektif bahwa seorang individu itu objek, sistem atau benda tertentu mempunyai kadar manfaat
2) Kemauan untuk menerima suatu objek tersebut mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif
d. Tingkat Organisasi (Organization)
Organisasi dapat diartikan sebagai:
1) Proses konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan
2) Kemungkinan untuk mengorganisasikan nilai-nilai, menentukan hubungan antar nilai dan menerima bahwa suatu nilai itu lebih dominan dibanding nilai yang lain apabila kepadanya diberikan berbagai nilai
e. Tingkat Karakterisasi (Characterization)
Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri pelakunya


Romiszowski (1984) dalam Yamin (2004:36) mengelompokkan aspek afektif menjadi dua tipe perilaku yang berbeda sebagai berikut:

1) Reflek yang terkondisi (reflexive conditional) yaitu reaksi kepada stimuli khusus tertentu yang dilakukan secara spontan tanpa direncanakan lebih dahulu tujuan reaksinya
2) Sukarela (voluntary) adalah aksi dan reaksi yang terencana untuk mengarahkan ke tujuan tertentu dengan cara membiasakan dengan latihan-latihan untuk mengontrol diri

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa domain afektif berhubungan dengan respon seseorang terhadap sesuatu yang diwujudkan melalui sikap hati, baik secara positif maupun negatif. Respon yang diberikan pun dapat bersifat reflek serta dapat pula bersifat sukarela dan terencana. Dengan demikian maka untuk mengetahui kompetensi seseorang dalam bidang tugasnya dapat pula dengan melihat aspek afektifnya yang diantaranya berupa sikap, minat, emosi, komitmen dan penilaiannya terhadap suatu stimulus.


D. Profil Kompetensi Instruktur Senam Aerobik
Profil sering diartikan sebagai gambaran mengenai sesuatu objek. Oleh karena yang menjadi pembahasan ini adalah instruktur senam aerobik, maka profil yang dimaksud adalah gambaran tentang kompetensi instruktur senam aerobik.
Sanggar senam atau pusat kebugaran jasmani yang menyediakan sarana olahraga senam kebugaran yang dalam hal ini adalah senam aerobik, pada saat ini bukan saja sebagai tempat untuk mengembangkan kuantitas dan kualitas jasmani, tetapi merupakan tempat penyaluran aktivitas sosial dan sarana pemanfaatan waktu luang. Hal ini menjadikan keberadaan sanggar senam dan pusat kebugaran jasmani menjadi salah satu jenis kebutuhan masyarakat, khususnya masyarakat Kota Bandung.
Instruktur senam aerobik sebagai salah satu bagian dari unsur organisasi yaitu unsur manusia (human) menempati posisi penting dalam kerangka kerja organisasi usaha. Hal ini dikarenakan organisasi baru ada jika ada unsur manusia yang bekerja sama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin (bawahan) yang dalam hal ini adalah instruktur senam aerobik sebagai pelaksana di lapangan.
Ditinjau dari latar belakang pendidikan formal, pada umumnya instruktur senam aerobik berasal dari institusi pendidikan yang beragam mulai dari sekolah lanjutan sampai dengan perguruan tinggi. Sedangkan dari latar belakang pendidikan non-formal, pada umumnya instruktur senam aerobik telah mempunyai sertifikat sebagai instruktur senam aerobik dari lembaga-lembaga yang mengadakan kegiatan pelatihan, penataran dan seminar tentang keolahragaan, khususnya olahraga kebugaran. Hal ini menggambarkan bahwa ditinjau dari latar belakang pendidikan, maka instruktur senam aerobik relatif dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mempunyai kinerja yang baik.
Ditinjau dari pengalaman bekerja menjadi instruktur senam aerobik, pada umumnya pengalaman bekerja para instruktur senam aerobik relatif beragam mulai dari yang kurang lebih satu tahun sampai dengan yang sudah mencapai 10 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa pengalaman kerja instruktur senam aerobik akan mempengaruhi kemampuan kerja dan diduga mempunyai kompetensi yang baik. Hal ini memberikan gambaran pula bahwa para instruktur senam aerobik di Kota Bandung mempunyai kompetensi yang baik.
Terlepas dari beberapa hasil pengamatan tersebut di atas, persyaratan atau kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang instruktur senam aerobik untuk menggambarkan kompetensinya dapat mengacu pada penjelasan Simanjuntak (2006:1) tentang standar kompetensi sebagai berikut:

Standar kompetensi mencakup persyaratan kunci pelaksanaan tugas di tempat kerja dan terdiri atas empat komponen:
1) Elemen yang menggambarkan garis besar aktivitas-aktivitas terpenting yang akan dilaksanakan
2) Kriteria pelaksanaan tugas yang merinci hal-hal yang harus dilakukan untuk menunjukkan kemampuan seseorang
3) Beberapa variabel yang dapat menggambarkan relevansi konteks dan kondisi pada suatu unit
4) Penentuan bukti yang memberikan gambaran bagaimana kompetensi akan diakui

Kemudian dalam http://www.pusdiknakes.or.id/ dijelaskan tentang standar kompetensi kaitannya dengan kompetensi instruktur senam aerobik sebagai berikut:
1) Standar yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan maupun sikap yang disyaratkan dalam pekerjaan
2) Dibuat oleh lembaga/instansi yang bersangkutan
3) Merupakan pedoman dasar pelatihan, untuk menentukan kualifikasi maupun penilaian
4) Merupakan pedoman bagi pelatih maupun evaluator terhadap penyelenggaraan dan penilaian pelatihan

Selain penjelasan di atas, sebaiknya kompetensi seorang instruktur senam aerobik dibuktikan secara formal melalui sertifikat atau bukti konkrit lain. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Simanjuntak (2006:1) sebagai berikut:
Sertifikat kompetensi adalah pengakuan formal bahwa seseorang telah memperoleh kompetensi dalam suatu bidang tertentu, artinya: 1) Orang itu harus dapat mendemonstrasikan pelaksanaan pekerjaan yang disyaratkan di tempat kerja, 2) Orang ini mungkin saja telah beberapa lama mengembangkan dan melatih keterampilannya di tempat kerja dan 3) Orang itu akan dinilai berdasarkan kompetensi
Berkenaan dengan tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba sebesar-besarnya, maka keberadaan instruktur senam aerobik yang berhubungan langsung dengan konsumen merupakan tulang punggung terhadap maju-mundurnya perusahaan. Kemampuan berkomunikasi dan interaksi dengan para konsumen merupakan modal utama yang harus dikembangkan oleh instruktur senam aerobik. Dengan demikian maka kompetensi para instruktur senam aerobik akan tergambar melalui kemampuannya dalam komunikasi dan interaksi dengan para konsumen, menyusun program latihan, menerapkan program latihan sesuai tujuan latihan para konsumen dan kemampuan memberikan bimbingan dan arahan kepada para konsumen untuk mencapai tujuan latihannya.
Berkaitan dengan kemampuan seorang instruktur senam aerobik layaknya seorang pendidik atau guru bagi para anggotanya, Safa’at (2000:20) mengemukakan tentang upaya dalam membangun kompetensi diri yaitu sebagai berikut:

Ada 4 hal penting yang dapat diusahakan oleh guru untuk membangun kemantapan diri sekaligus mengembangkan kompetensi diri dan kompetensi mengajarnya, diantaranya:
1) Membangun kemantapan diri daripada mereduksi ekspektasi dengan terus melakukan regulasi diri yang relevan dengan pengembangan profesinya;
2) Mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah (seminar, lokakarya, diskusi ilmiah, dsb) secara berkesinambungan dalam merespons secara aktif setiap isu-isu terbaru yang berkembang di dunia pendidikan;
3) Mempelajari hasil-hasil penelitian dari berbagai literatur tentang kompetensi mengajarnya yang berhubungan dengan prestasi subjek didik;
4) Sebagai hasil dari analisis tugas mengajar pada tingkat dan kurikulum yang berbeda.

Berdasarkan pendekatan perilaku yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik dan afektif, maka profil kompetensi instruktur senam aerobik aerobik senam aerobik dapat disusun sebagai berikut:
1. Profil Kompetensi Instruktur Senam Aerobik Berdasarkan Aspek Afektif

Instruktur senam aerobik merupakan salah satu bagian penting dari keseluruhan manajemen organisasi usaha sanggar senam atau pusat kebugaran, karena seorang instruktur selalu berhadapan langsung dengan konsumen, sehingga kualitas manajemen sanggar senam atau pusat kebugaran sering dilihat dengan berdasar pada kualitas instrukturnya.
Domain afektif sebagai bagian dari indikator perilaku dapat dijadikan acuan dalam menggambarkan kompetensi seorang instruktur aerobik. Aspek-aspek afektif yang dapat dijadikan indikator untuk mengetahui kompetensi instruktur senam aerobik adalah sebagai berikut:
a. Aspek Menerima (Receiving)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus dapat menerima berbagai tuntutan pekerjaan seperti instruksi manajer, tugas dan wewenang, jadwal melatih, ekspektasi para member. Juga harus memiliki kesadaran bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi di lapangan merupakan tantangan pekerjaan.

b. Aspek Tanggapan (Responding)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus dapat memberikan tanggapan yang bersifat positif dari berbagai informasi dan kritikan yang ditujukan kepadanya. Juga harus dapat berpartisipasi aktif terhadap berbagai kegiatan yang ada dengan memberikan informasi dan tanggapan yang proporsional sesuai tugas dan wewenangnya.




c. Aspek Menilai (Evaluating)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus memberikan informasi dan penilaian yang objektif bagi manajemen dan member mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan lingkup tugas dan wewenangnya. Selain itu harus dapat melakukan perbaikan terhadap berbagai hal yang dianggap masih kurang maksimal, terutama berkaitan dengan performanya di lapangan.

d. Organisasi (Organization)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus dapat mengorganisasi kebutuhan, baik kebutuhan pribadi maupun manajemen. Hal ini berarti seorang instruktur senam aerobik harus dapat menetapkan skala prioritas dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

e. Karakterisasi (Characterization)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus dapat bersikap secara konsisten dengan nilai-nilai yang diterimanya, sehingga sikapnya merupakan cerminan atau ciri khasnya. Hal ini berarti seorang instruktur senam aerobik harus mempunyai kejujuran, keyakinan yang kuat, dan motivasi yang baik.

2. Profil Kompetensi Instruktur Senam Aerobik Berdasarkan Aspek Kognitif

Domain kognitif sebagai bagian dari indikator perilaku dapat dijadikan acuan dalam menggambarkan kompetensi seorang instruktur aerobik. Aspek-aspek kognitif yang dapat dijadikan indicator untuk mengetahui kompetensi instruktur senam aerobik adalah sebagai berikut:

a. Pengetahuan (Knowledge)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang senam aerobik dan berbagai hal yang berkaitan dengan kebugaran jasmani dan kesehatan. Hal utama yang harus dimiliki pada level ini diantaranya adalah mampu menyebutkan, menggambarkan dan mengurutkan susunan latihan senam aerobik untuk berbagai tujuan.

b. Pemahaman (Comprehension)
Dalam hal ini seorang instruktur senam aerobik harus menjelaskan pengetahuan dan informasi yang diperolehnya dengan kata-kata sendiri. Hal ini berarti instruktur senam aerobik harus dapat diantaranya menjelaskan tentang senam aerobik, kebugaran jasmani dan kesehatan. Selain itu harus dapat mengkaji ulang akibat dari kesalahan latihan.

c. Penerapan (Aplication)

d. Analisis (Analysis)

e. Sintesis (Synthesis)

f. Evaluasi (Evaluation)

 

4 comments:

  1. info yang baik, tapi tulisan dengan background warnanya hampir sama, sebelumnya saya ucapkan terimakasih. semoga lebih baik kedepanya

    ReplyDelete
  2. Salam kenal Gan
    aerobic dalam bahasa latin itu artinya apa ya? dan klo beraerobic yang baik itu dilakukan selama berapa menitkah?
    dan klo ada info tenang baju senam murah di daerah Surabaya mhon infonya ya? tq :)

    ReplyDelete
  3. Salam kenal...
    Info yang menarik nih.. Kalau boleh tau nih aada ga dampak buruk jika kirta senam aerobik tanpa menggunakan baju senam yang tepat...
    Thanks... :)

    ReplyDelete
  4. infonya lengkap banget nih >< keren, oiya kalo senam gitu paling oke pake baju senam murah tapi yang berkualitas biar makin maksimal hasilnya nanti ^^

    ReplyDelete