Selamat dan Semoga Sukses Selalu untuk Siswa-Siswi SMA Negeri 26 Bandung atas Kelulusannya yang 100% ...
BLOG ini digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi antar komponen sekolah berkaitan dengan proses dan kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani di SMA Negeri 26 Bandung
Sunday, May 27, 2012
Friday, May 11, 2012
Teknik Menendang Bola Dalam Permainan Sepak Bola
Sepak bola merupakan jenis olahraga beregu yang dimainkan oleh 11 orang
di lapangan dengan bola sebagai alat permainannya. Olahraga sepak bola
dimainkan dengan menggunakan tungkai, kaki, badan dan kepala, kecuali penjaga
gawang dapat menggunakan tangan. Tujuan permainan ini adalah memasukkan bola sebanyak-banyaknya
ke gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri dari serangan lawan. Sucipto
dkk. (2000:7) menjelaskan tentang pengertian sepak bola sebagai berikut: “Sepak
bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri dari sebelas pemain,
dan salah satunya penjaga gawang. Permainan ini hampir seluruhnya dimainkan
dengan menggunakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang dibolehkan menggunakan
lengannya di daerah tendangan hukumannya.” Kemudian Sukintaka (1979:103)
menjelaskan sebagai berikut: “Sepak bola adalah permainan yang dimainkan oleh
dua regu yang masing-masing regu terdiri dari 11 orang pemain, yang mempunyai
tujuan untuk memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan
mempertahankan gawangnya sendiri untuk tidak kemasukan.”
Setiap cabang olahraga mempunyai tujuan dari permainannya. Tujuan
permainan sepak bola menurut Sucipto dkk. (2000:7) adalah “Memasukkan bola
sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan berusaha menjaga gawangnya sendiri agar
tidak kemasukan.” Hal ini berarti suatu regu dinyatakan menang apabila regu
tersebut lebih banyak memasukkan bola ke gawang lawannya dan lebih sedikit
kemasukan bola.
Dalam permainan sepak bola terdapat beberapa teknik dasar yang harus
dikuasai, diantaranya menggiring bola, menendang bola, menghentikan bola, dan
mengoper bola. Mengenai teknik dasar permainan sepak bola dijelaskan oleh
Sukintaka (1979:73) sebagai berikut:
Teknik sepak
bola dapat dibagi dalam dua bagian:
a.
Teknik tanpa bola (teknik badan)
b.
Teknik dengan bola
Teknik tanpa
bola dapat dibedakan menjadi:
1)
Teknik lari
2)
Teknik melompat
3)
Teknik gerak tipu
Teknik dengan
bola dapat dibedakan menjadi:
1)
Teknik menendang bola
2)
Teknik menerima bola
3)
Teknik menyundul bola
4)
Teknik menggiring bola
5)
Teknik melempar bola
6)
Teknik menipu lawan
7)
Teknik merampas bola
8)
Teknik penjaga gawang
Kosasih (1985:216) membagi teknik dasar bermain sepak bola menjadi enam
bagian yaitu: “Teknik menendang bola, menghentikan bola, menggiring bola, gerak
tipu, teknik menyundul bola dan teknik melempar bola.” Sedangkan Sukatamsi
(1984:124) menjelaskan tentang pembagian teknik dasar sepak bola adalah sebagai
berikut: “Menerima bola, menendang bola, menggiring bola, menyundul bola,
melempar bola, gerak tipu, merebut bola dan teknik-teknik khusus penjaga
gawang.”
Penguasaan keterampilan teknik dasar bagi seorang pemain sepak bola
adalah penting, karena sangat berkaitan dengan tujuan permainan sepak bola
yaitu memasukkan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri dari
serangan lawan. Tanpa penguasaan teknik yang memadai maka tujuan permainan
sepak bola cenderung tidak akan tercapai.
Menendang bola merupakan salah satu teknik yang harus dikuasai oleh
seorang pemain sepak bola, karena berdasarkan fungsinya, menendang bola dapat
digunakan sebagai cara memberikan (mengoper) bola kepada teman dalam berbagai
jarak dan menembak bola ke gawang. Jika kemampuan menendang bola ini kurang
baik maka seorang pemain dapat dikatakan tidak dapat bermain sepak bola dengan
baik.
Shooting atau tembakan
merupakan salah satu cara untuk memasukkan bola atau menciptakan gol ke gawang
lawan dengan menggunakan kaki sebagai subyek geraknya. Fralick (1945:17)
menyatakan, “Shooting at the goal is
a very important phase of the game.” Kemudian Sukatamsi (1997:230) menyatakan:
Menendang bola merupakan teknik dasar bermain sepak bola yang paling
banyak digunakan dalam permainan sepak bola. Kesebelasan sepak bola yang baik
adalah suatu kesebelasan sepak bola yang semua pemainnya menguasai teknik dasar
menendang bola dengan baik, cepat dan tepat ke arah sasaran, baik teman maupun
sasaran dalam membuat gol ke gawang lawan.”
Sucipto dkk. (2000:11) menyatakan, “Menendang bola merupakan pola gerak
dominan yang paling penting dalam permainan sepak bola. Pada dasarnya bermain
sepak bola itu tidak lain dari permainan menendang bola.” Kemudian Tarigan
(2001:58) menyatakan, “Sekitar 80% terjadinya gol berasal dari tembakan.”
Berdasarkan beberapa penjelasan
tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa penguasaan keterampilan teknik
dasar menendang bola bagi seorang pemain sepak bola adalah penting, karena
sangat berkaitan dengan tujuan permainan sepak bola yaitu memasukkan bola ke
gawang lawan. Tanpa penguasaan teknik menendang bola yang memadai maka tujuan
permainan sepak bola cenderung tidak akan tercapai secara maksimal.
Mengenai teknik menendang bola dijelaskan oleh Soejoedi (1979:118)
sebagai berikut:
Pembagian cara
menendang:
Atas dasar
bagian kaki yang digunakan untuk menendang:
1. dengan
bagian kaki sebelah dalam
2. dengan
kura-kura kaki (punggung kaki)
3. dengan
kura-kura kaki bagian dalam
4. dengan
kura-kura kaki bagian luar
5. dengan
bagian kaki sebelah luar
6. dengan
ujung jari (sepatu)
7. dengan
tumit
8. dengan
paha
Atas dasar
kegunaannya:
1. mengoper
bola kepada teman
2. menembak
ke gawang
3. menyapu
bola
4. tendangan-tendangan
khusus seperti tendangan sudut, tendangan gawang, dan tendangan hukuman
Atas dasar tinggi rendahnya bola:
1. melambung
rendah setinggi lutut
2. melambung
sedang setinggi kepala
3. melambung
tinggi di atas kepala
Atas dasar
arah bola:
1. tendangan
lurus
2. tendangan
melengkung
Kemudian Sukatamsi (1997:233) menjelaskan tentang jenis tendangan
berdasarkan tinggi-rendahnya lambungan bola sebagai berikut:
Atas dasar
tinggi rendahnya lambungan bola:
1)
Tendangan bola rendah
Bola menggulir datar di atas permukaan tanah sampai setinggi lutut
2)
Tendangan bola melambung lurus atau melambung sedang
Bola melambung
paling rendah setinggi lutut dan paling tinggi adalah setinggi kepala
3)
Tendangan bola melambung tinggi
Bola melambung tinggi paling rendah setinggi kepala
Berdasar pada penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teknik
dasar sepak bola terbagi dalam dua teknik yaitu teknik tanpa bola dan teknik
dengan bola. Teknik tanpa bola berfungsi untuk pergerakan badan mencari posisi
yang menguntungkan dan menghindar dari penjagaan lawan. Sedangkan teknik dengan
bola berfungsi untuk menguasai dan menjaga bola dari lawan.
Berkaitan dengan penelitian ini, maka menendang bola yang dimaksud adalah
menendang bola ke arah gawang. Adapun cara menendang bola ke gawang adalah
sebagai berikut:
1)
Awalan: berdiri lurus dengan bola, kaki tumpu
diletakkan di samping bola dengan jari kaki menghadap ke depan dan lutut
sedikit ditekuk. Kaki sepak diputar keluar pada pangkal pahanya sehingga kaki
sepak membentuk sudut 90o dengan kaki tumpu.
2)
Perkenaan dengan bola: terjadi pada daerah punggung
kaki, sedangkan bola disepak tepat pada titik pusatnya.
3)
Follow Through: dengan cara mengikuti lintasan ayunan
gerak kaki ke depan.
Secara biomekanika, teknik menendang bola dengan tujuan memasukkan bola
ke gawang lawan dalam jarak tertentu maka harus sesuai dengan hukum gerak
sebagai berikut:
Untuk mencapai tujuan tendangan,
maka tungkai sebagai subjek gerak harus dapat bergerak dengan cepat dan kuat
khususnya untuk menendang bola ke gawang yang jaraknya jauh. Secara mekanik,
kecepatan gerak ditentukan oleh force (gaya ),
dan waktu tempuh. Hal ini berarti tendangan harus dilakukan dengan gaya yang besar, dan waktu
tempuh yang singkat.
Pada saat melakukan tendangan, untuk
mencapai jarak horizontal yang sejauh-jauhnya, maka harus mengacu pada
penjelasan Hidayat (1990:57) bahwa, “Besarnya impuls = K x t. Impuls yang besar
mengakibatkan momentum yang dihasilkan juga besar.” K = kekuatan dan t = waktu.
Hal ini berarti apabila tendangan dilakukan dengan dukungan power yang besar
dan dilakukan dalam waktu yang cepat, maka akan menimbulkan impuls dan momentum
yang besar sehingga efek tendangan pun akan besar pula. Artinya bola sebagai
objek tendangan akan bergerak dengan cepat menuju sasaran.
Untuk melakukan tendangan terhadap bola diperlukan kekuatan (K) otot
tungkai dan awalan (jarak sasaran dengan kaki ayun). Kekuatan dan jarak awalan
menghasilkan kerja/usaha yang besarnya = K x s. Kaki ayun berada dalam tegangan
yang mengandung tenaga disebut Tenaga Kerja Tempat (karena tempat dan
potensinya). Tenaga Kerja Tempat mampu mencapai sasaran sesuai dengan besarnya
kekuatan dan awalan yang dilakukan. Hidayat (1990:28) menjelaskan, “Sebuah
benda dikatakan mempunyai Tenaga Kerja Tempat bilamana oleh karena tempatnya
benda tersebut mempunyai kerja.”
Hasil tendangan ditentukan oleh besarnya kekuatan, waktu tempuh dan jarak
awalan. Hal ini berarti kaki ayun akan mencapai sasaran sesuai dengan besarnya
kekuatan yang digunakan untuk menendang dan jarak awalan kaki ayun dengan titik
perkenaan kaki dan sasaran. Berkenaan dengan hal ini Zanon (1973) yang dikutip
oleh Hidayat (1996) menyatakan, “Kecepatan gerak itu berbanding lurus dengan
kekuatan maksimal.” Hal ini berarti kecepatan gerak tungkai dalam melakukan
tendangan ditentukan oleh kekuatan maksimal yang dikeluarkannya. Dengan
kekuatan yang besar maka akan menghasilkan kecepatan gerak yang tinggi.
Berkaitan dengan kekuatan, Hidayat (1990:56) menjelaskan:
Momentum tidak timbul begitu saja. Yang menyebabkannya adalah kekuatan
(K). Makin lama kita kerahkan K, makin besar momentum yang ditimbulkannya. Jadi
K (kekuatan) x t (lamanya kekuatan bekerja) adalah yang menyebabkan, sedangkan
m (massa ) x v
(velocity) adalah akibat yang ditimbulkan. Sebab dan akibat selalu sama
besarnya. K x t = m x v.
Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa bila momentum benda diteruskan
atau dipindahkan ke benda lain, maka jumlah momentum dari benda yang pertama
sama besar dengan jumlah momentum dari benda ke dua. Dalam hal tendangan
terhadap bola, momentum ayunan kaki diteruskan ke sasaran dengan besar atau
jumlah yang sama.
Tuesday, May 1, 2012
Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani sebagai alat pendidikan dalam pelaksanaannya
diimplementasikan melalui berbagai model diantaranya movement education,
fitness approach, dan sport education model. Masing-masing model pembelajaran
memiliki kesesuaian dengan tingkat atau jenjang pendidikan tertentu. Seperti
model movement education yang sesuai untuk kelas-kelas bawah, terutama dari
mulai TK sampai kelas 3 SD. Mengenai model-model program pendidikan jasmani di
atas, Adang Suherman (2000:41-51) menjelaskan bahwa:
a.
Movement Education (Pendidikan Gerak)
Salah satu model implementasi program pendidikan jasmani yang lebih
menekankan pada penguasaan gerak. Tujuan dari pendekatan ini terutama agar
anak:
1)
Dapat bergerak secara terampil, dapat menunjukkan aneka
ragam gerak secara efisien dan efektif pada situasi yang terencana maupun tidak
terencana
2)
Lebih menyadari akan arti dan rasa dari gerak itu
sendiri, serta menyenanginya baik sebagai pelaku maupun penonton
3)
Meningkatkan pengetahuan dan menerapkan pengetahuan
tentang gerak manusia
Aktivitas belajar yang tertuang dalam kurikulum pada model ini dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga katagori, yaitu tari (dance), senam
(gymnastics), dan permainan (games). Gaya
mengajar yang sering digunakan pada model ini adalah gaya eksplorasi, yaitu anak disuruh
bereksplorasi melakukan berbagai gerak dasar.
b.
Fitness Approach (Pendekatan Kebugaran)
Salah satu model implementasi program pendidikan jasmani yang lebih
menekankan pada peningkatan kualitas kesegaran jasmani anak didiknya. Tujuan
dari pendekatan ini terutama agar anak:
1)
Menjadi lebih segar
2)
Mengetahui dasar-dasar fisiologis kesegaran jasmani
3)
Mengetahui dan memelihara gaya hidup sehat
Dalam kurikulum model ini, unsur-unsur kesegaran jasmani merupakan isi
dari kurikulum yang dikembangkannya.
c.
Academic-Discipline Approach (Pendekatan Disiplin
Akademik)
Salah satu model implementasi program pendidikan jasmani yang lebih
menekankan pada penguasaan aspek akademis secara mendalam bagi para siswa S1
pendidikan jasmani. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah penguasaan
pengetahuan dan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu pendidikan jasmani secara
mendalam, namun penampilan olahraga dan aktivitas fisik lainnya tetap
diberikan.
d.
Social Development Model (Model Pengembangan Sosial)
Pendekatan ini disebut juga pendekatan humanistic (humanistic education).
Cirri utamanya adalah 1) memperlakukan anak sebagai mahluk individu, 2) lebih
menekankan pada perkembangan individu dan perkembangan sosial daripada
perolehan akademis (academic achievement). Tujuan model ini adalah membantu
siswa:
1)
Mengatasi permasalahan kehidupan sosialnya dengan lebih
baik
2)
Memperoleh kehidupan pribadinya dengan lebih baik
3)
Mampu memberi kontribusi terhadap kehidupan lingkungan
sosial di sekitarnya
e.
Sport Education Model (Model Pendidikan Olahraga)
Sport Education Model merupakan model kurikulum yang dapat dikembangkan
bukan hanya di sekolah tetapi lebih luas lagi di masyarakat. Tujuan utama model
ini adalah membantu semua siswa mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang
berguna untuk dapat berpartisipasi dalam olahraga serta membantu siswa untuk
menjadi olahragawan yang baik sepanjang hidupnya.
f.
Adventure Education Approach (Pendekatan Pendidikan
Petualangan)
Terdapat dua gagasan yang mendorong munculnya model ini. Pertama,
aktivitas petualangan (terutama aktivitas berbahaya di alam terbuka) mempunyai
potensi pendidikan dan potensi pegnembangan karakter. Kedua, minat masyarakat
terhadap rekreasi outdoor nampak semakin meningkat. Beberapa tujuan dari model
ini adalah sebagai berikut:
1)
Mempelajari keterampilan-keterampilan rekreasi outdoor
dan mendapatkan kepuasan dari kegiatan itu
2)
Belajar tinggal pada situasi dan kondisi yang serba
terbatas
3)
Belajar menemukan kesenangan pada saat menerima
tantangan dari kegiatan fisik yang menegangkan dan beresiko
4)
Belajar hidup mandiri pada lingkungan alami
5)
Berbagi pengalaman dan belajar hidup bersama dengan
kelompoknya
g.
Eclectic Approach (Pendekatan Eklektik)
Meskipun beberapa sekolah dapat menerapkan model-model kurikulum secara
penuh, namun sekolah-sekolah lainnya bisa saja menerapkan gabungan atau
kombinasi dari model-model itu. Penerapan model kurikulum seperti ini disebut
sebagai pendekatan eklektik (eclectic approach).
Dua diantara beberapa kemungkinan penerapannya, Pertama: masing-masing
model kurikulum dijadikan unit dari keseluruhan program pendidikan jasmani dan
bersifat wajib bagi seluruh siswa untuk mengikutinya. Kedua: masing-masing
model kurikulum ditawarkan kepada siswa dan siswa dapat memilihnya.
h.
Developmental Education (Pendidikan Pengembangan)
Model
developmental menempatkan anak sebagai pusat pertimbangan kurikulum. Pembuat
kurikulum membuat program pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak
didik pada saat sekarang. Model ini berusaha menciptakan kurikulum yang
holistic dan seimbang antara pengembangan aspek kognitif, afektif dan
psikomotor. Model ini menganggap bahwa “setiap individu mempunyai irama dan
pola pertumbuhan dan perkembangan yang unik.” Oleh karena itu unit pembelajaran
disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan individu.
Saturday, March 31, 2012
Permainan Bola Voli
Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga
Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan
jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan
di YMCA
pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts
(Amerika Serikat).
William G. Morgan dilahirkan di Lockport , New York
pada tahun 1870,
dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan
sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat
Kristen
kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini
didirikan pada tanggal 6 Juni 1884
di London,
Inggris
oleh George William.
Setelah bertemu dengan James Naismith
(seorang pencipta olahraga bola basket
yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada
tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan
sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James
Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang
instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College
of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya
olahraga permainan Basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan
Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan
mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette
diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi
satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya,
permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda
lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.
Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada
tahun 1896,
pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School.
Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey
Gulick (Director of the Professional Physical Education Training
School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education
of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk
mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang
baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh
seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan
membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang Dalam
kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah
permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat
leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga
dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi
standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah
mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke
wilayah lain (wilayah lawan).
Permainan ini dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari enam
orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 (dua puluh lima) terlebih
dahulu. Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu toser (setter), spiker
(smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Toser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk
mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola
agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero
adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan
untuk menerima serangan dari lawan. Jika pihak musuh bisa memasukkan dan
mematikan bola ke dalam daerah kita maka kita kehilangan bola dan musuh mendapatkan
nilai. Serve yang kita lakukan
harus bisa melewati net dan masuk ke daerah musuh. Jika tidak, maka musuh pun
akan mendapat nilai.
Permainan voli menuntut kemampuan pemikiran yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Toser harus memutuskan apa yang harus
dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam
sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan. Teknik
dasar dalam permainan bola voli menurut Bachke (1980) yang dikutip oleh Suhadi
(2003:6) meliputi: “servis, penerimaan servis, pasing dan umpan, pukulan
serangan, bendungan (block), dan penerimaan.” Neville (1990: 1962), unsur
ketrampilan bermain bola voli meliputi servis, passing bawah, passing atas,
serangan (smash), dan bendungan (block). Tehnik-tehnik dasar permainan bola
voli yaitu:
1.
Servis
Menurut
Robinsen (1989:36) adalah “Berdiri di tempat yang telah tersedia, lalu memukul
bola pada arah yang berlawanan menggunakan satu tangan, menuju daerah
pertahanan lawan.” Sedangkan menurut Subroto dan Yudiana (2010: 52)
yaitu:
Servis adalah pukulan pertama untuk mengawali
permainan. Servis dilakukan dari daerah servis masuk ke bidang lapangan lawan
melewati atas net. Pada awalnya servis hanya merupakan penyajian bola pertama untuk
mengawali permainan. Dalam perkembangan bola voli modern, servis merupakan
serangan pertama untuk memperoleh angka.
Servis ada beberapa macam:
a. Servis
bawah adalah servis dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul
bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola
dengan ayunan tangan dari bawah.
b. Servis
atas adalah servis dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian
Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
c. Servis
mengapung adalah servis atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama.
Awalan servis mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu
tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola
bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.
Yang perlu
diperhatikan dalam servis
a.
Sikap badan dan pandangan
b.
Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan
c.
Saat kapan harus memukul bola.
Servis dilakukan untuk mengawali suatu permainan bola voli. Pada waktu servis
kedua regu harus berada dalam lapangan atau di daerahnya masing-masing.
2.
Passing
Passing dalam
perminan bola voli terdiri dari dua yaitu pas bawah dan pas atas. Menurut Subroto dan Yudiana (2010:51) yaitu:
Pas bawah
dua tangan adalah cara memainkan bola yang datang lebih rendah dari bahu dengan
menggunakan kedua pergelangan tangan yang dirapatkan. Passing ini biasanya
digunakan untuk memainkan bola yang datang baik dari lawan maupun dari kawan
regu, yang memiliki ciri sulit; misalnya bola rendah, cepat, keras, atau yang
datang tiba-tiba, namun masih dapat dijangkau oleh kedua tangan.
Sikap
permulaan pas bawah dua tangan menurut Subroto dan Yudiana (2010:51) yaitu:
Sikap
permulaan yaitu berdiri dengan salah satu kaki didepan, lutut sedikit ditekuk,
badan sedikit dibungkukkan, titik berat badan bertumpu pada kedua tapak kaki
bagian depan, sehingga posisi badan labil. Kedua lengan siap didepan dada dalam
kondisi rileks
Pelaksanaan
pas bawah dua tangan yaitu bergerak kearah jatuhnya bola. Berikut adalah
pemaparan yang dikemukakan oleh Subroto dan Yudiana (2010:51) yaitu:
Bergerak
kearah jatuhnya bola, kedua tangan dirapatkan, ayunkan lengan kearah bola dan
sasaran dengan poros gerak pada persendian bahu, kedua sikut lurus dan
ditegakan. Perkenaan bola pada bagian pergelangan tangan pada waktu lengan
membentuk kira-kira 45 derajat dengan badan.
Selanjutnya pas atas menurut Subroto
dan Yudiana (2010:47) yaitu:
Passing atas adalah cara memainkan bola diatas depan dahi dengan
menggunakan kedua jari tangan. Passing atas biasanya digunakan untuk memainkan
bola yang datang baik dari lawan maupun dari kawan seregu, yang memiliki ciri
melambung dan kecepatannya mudah diprediksi. Misalnya bola yang datang dari
servis lawan yang melambung, operan teman seregu, atau kadang kala dari bola
yang diseberangkan oleh pihak lawan (bukan dari servis) yang datang melambung.
Selanjutnya pas atas sering digunakan untuk memainkan
bola yang mementingkan ketepatan seperti umpan untuk spike dan tipuan kelawan.
Adapun cara-cara melakukan passing atas menurut Subroto dan Yudiana (2010:48) yaitu
sebagai berikut:
Sikap permulaan yaitu
berdiri menghadap kearah bola, kaki dibuka selebar bahu, salah satu kaki
kedepan, berat badan bertumpu pada tapak kaki bagian depan, lutut sedikit
ditekuk dengan badan sedikit membungkuk, segera bergerak kearah jatuhnya bola,
kedua tangan diangkat lebih tinggi dari dahi, kedua jari tangan dibuka lebar
membentuk setengah bulatan bola, ibu jari dan telunjuk membentuk segitiga.
Selanjutnya setelah sikap permulaan pas atas
dilanjutkan dengan pelaksanaan pas atas. Berikut pelaksanaan pas atas
menurut Subroto dan Yudiana (2010:48) yaitu sebagai berikut:
Tepat saat bola berada diatas depan dahi, luruskan
kedua lengan dengan gerakan agak melecut (eksplosif) untuk segera mendorong
bola. Perkenaan bola pada bagian ujung jari tangan, terutama ujung jari,
telunjuk, dan jari tengah. Ujung jari lainnya membantu menahan bola. Pada waktu
perkenaan, ujung jari ditegakan, kemudian diikuti dengan gerakan fleksi
pergelangan tangan.
3. Smash (spike)
Dengan membentuk
serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan
ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor
berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik spike Menurut Muhajir
Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola
dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk
mencapai suatu hasil yang optimal (2006:23). Menurut pendapat Mariyanto
mengemukakan, bahwa “Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak
dengan bola secara penuh pada bagian atas, sehingga jalannya bola terjal dengan
kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net,
maka bola dapat dipukul tajam ke bawah.” Selanjutnya Kristianto (2006:128) “Smash adalah pukulan keras yang biasanya
mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan.“ lebih lanjut
Kristianto (2003:143) mengemukakan, ”Spike merupakan bentuk serangan yang
paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim
dalam permainan voli.” Dari beberapa
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa teknik smash atau spike adalah cara
memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan
untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan.
Kesalahan-kesalahan
dalam melakukan smash menurut Bachtiar (1998:2.33) yaitu:
-
Langkah
awal terlalu lebar, sehingga mengurangi tolakan loncatan.
-
Kaki
pada mau melakukan tolakan terlalu terbuka dan tidak sejajar.
-
Pada
saat mau meloncat, lutut kurang atau terlalu ditekuk, sehingga mengurangi daya
loncatan.
-
Bola
dipukul dengan siku bengkok, sehingga pengambilan pukulan tidak pada titik tertinggi jangkauan tangan.
-
Meloncat
didepan bola, sehingga bola terpaksa dipukul dibelakang kepala, sehingga arah
bola tidak tajam tetapi parabol.
-
Meloncat
agak jauh dibelakang bola, sehingga bola dipukul terlalu diatas.
4. Membendung (blocking)
Membendung atau blok dilakukan dalam usaha menghadang bola hasil pukulan
lawan diatas dekat net. Keterampilan ini sangat penting dimiliki setiap pemain,
karena dalam permainan bola voli modern, kecepatan dan arah bola hasil pukulan
spiker sudah terlalu sulit untuk dapat diprediksi oleh pemain bertahan. Tanpa
ada bedungan pemain bertahan sangat sulit untuk mempersiapkan cara memainkan
bola hasil pukulan spiker secara sempurna. Berikut adalah pemaparan bendungan
atau blok menurut Bachtiar (1998:2.32) yaitu sebagai berikut:
Bendungan adalah usaha untuk menahan serangan lawan dengan cara
mengangkat kedua tangan diatas net dan menutup jalan bola kedaerah lapangan
sendiri. Bendungan merupakan benteng pertahanan pertama untuk menggagalkan
serangan lawan. Bendungan yang dilakukan dengan baik dapat merupakan penyerangan
untuk menggagalkan serangan lawan
Berikut adalah cara untuk melakukan bendungan atau
blok yang dikemukakan oleh Bachtiar
(1998:2.34) yaitu:
a.
Sikap
Permulaan
Berdiri
menghadap kejaring, kedua kaki terbuka dan berjarak kira-kira selebar bahu,
lutut ditekuk, kedua tangan siap didepan dada dengan telapak tangan menghadap
kejaring, pandangan mengawasi jalannya bola dan mempertahankan lawan yang akan
melakukan pukulan bola
b.
Gerakan pelaksanaan
Dengan
menolakan kedua kaki dengan gerakan eksplosif sambil meluruskan kedua lengan,
kedua telapak tangan dirapatkan jari-jari dibuka, sehingga ibu jari kiri dan
kanan berdekatan, posisi kedua tangan diarahkan menutup lintasan bola serangan
lawan
c.
Gerakan Lanjutan
Segera mendarat
dengan kedua kaki mengeper, dan mengambil situasi permainan selanjutnya.
Adapun kesalahan-kesalahan dalam melakukan bendungan atau blok menurut
Bachtiar (1998:2.34) yaitu:
-
Sikap berdiri
kurang siap, berdiri terlalu jauh dari jarring, sehingga terlambat meloncat.
-
Timing meloncat
tidak tepat, sehingga bendungan tidak mengenai bola.
-
Mendarat kurang
mengeper, lutut kurang ditekuk, sehingga gerakan tidak efektif.
-
Pada saat
membendung mata tidak melihat bola, sehingga bola lolos dari bendungan.
-
Jarak antara
tangan kiri dan tangan kanan terlalu lebar, sehingga bendungan lolos antara
kedua tangan.
Friday, March 23, 2012
Remaja dan Kenakalan Remaja
Masa remaja
merupakan masa yang penuh gejolak dan perubahan, baik secara fisik, psikis
maupun sosial. Masalah remaja sering dijadikan tema pembicaraan oleh setiap
orang di mana pun berada, karena kedudukan remaja sangat strategis dalam
konteks masa depan yaitu remaja adalah generasi yang akan menentukan masa depan
suatu bangsa dan negara.
Jika remaja berkembang tanpa ada
bimbingan dan arahan positif dari orang yang lebih dewasa maka remaja akan
menjadi individu yang cenderung tidak mengenal aturan dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat, sehingga pada akhirnya akan timbul masalah yang sering
dikenal dengan istilah kenakalan remaja.
Sugiyanto (1995:32)
menjelaskan, “Adolesensi atau remaja adalah individu-individu yang berusia 10
sampai 18 tahun untuk perempuan atau berusia 12 sampai 20 tahun untuk
laki-laki. Masa adolesensi merupakan masa transisi atau peralihan dari masa
anak-anak untuk menjadi dewasa.” Harold Alberty dalam Makmun (1981:55)
menjelaskan bahwa periode masa remaja sebagai “Suatu periode dalam perkembangan
yang dijalani seseorang yang terbentang semenjak berakhirnya masa
kanak-kanaknya sampai datangnya awal masa dewasanya.” Lebih lanjut Makmun
(1981:55) menjelaskan, “Secara tentatif pula ahli umumnya sependapat bahwa
rentangan masa remaja itu berlangsung dari sekitar 11 – 13 tahun sampai 18 – 20
tahun menurut ukuran umur kalender kelahiran seseorang.”
Gejala-gejala pertumbuhan dan perkembangan yang menonjol dari usia remaja
adalah dalam hal ukuran tubuh, jaringan tubuh, kematangan seksual dan
fisiologis. Pertumbuhan dan perkembangan ini akan mempengaruhi prilaku individu
terutama dalam merespon lingkungannya. Makmun (1981:36) menjelaskan, “Pada usia
remaja kegiatan motorik sudah tertuju kepada persiapan-persiapan kerja,
keterampilan-keterampilan menulis, mengetik, menjahit dan sebagainya sangat
tepat saatnya mulai dikembangkan.” Lebih lanjut Makmun (1981:39) menjelaskan
tentang indikator perkembangan bahasa pada usia remaja sebagai berikut: “Pada
masa remaja awal, mereka senang menggunakan bahasa sandi atau bahasa rahasia
yang berlaku pada gang-nya sehingga banyak menimbulkan kepenasaranan (curiousity) pihak luar mereka untuk
berusaha memahaminya; perhatiannya ke arah mempelajari bahasa asing mulai
berkembang.”
Piaget dalam Makmun (1981:41)
mengemukakan tentang tahapan kognitif usia remaja sebagai berikut:
Formal operational period (11; 0 or 12 ; 0 – 14 or 15 ; 0). Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan
kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang
bersifat kongkrit. Prilaku kognitif yang nampak pada kita antara lain:
- Kemampuan berpikir hipotesis deduktif (hypothetico deductive thinking).
- Kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan dua atau lebih
kemungkinan yang ada (a combinational
analysis).
- Kemampuan mengembangkan suatu proposisi atau dasar proposisi-proposisi yang
diketahui (propositional thinking).
- Kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai kategori objek
yang beragam.
Lebih lanjut Makmun
(1981:58) menjelaskan tentang prilaku usia remaja sebagai berikut:
1. Berkembang penggunaan bahasa sandi dan mulai tertarik mempelajari bahasa
asing.
2. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik
fantastik dan estetik.
3. Pengamatan dan tanggapannya masih bersifat realisme kritis.
4. Proses berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal
(asosiasi, diferensiasi, komparasi, kasalitas) dalam term yang bersifat abstrak
(meskipun relatif terbatas).
5. Kecakapan dasar intelektual umumnya (general intelegency) menjalani laju
perkembangannya yang terpesat (terutama bagi yang belajar di sekolah).
Proses perkembangan fungsi-fungsi
dan prilaku kognitif itu menurut Piaget dalam Makmun (1981:42) yaitu,
“Berlangsung mengikuti suatu sistem atau prinsip mencari keseimbangan (seeking equilibrium), dengan menggunakan
dua cara atau teknik yaitu assimilation
dan accomodation. Teknik asimilasi
digunakan apabila individu memandang hal-hal baru dihadapinya dapat disesuaikan
dengan kerangka berfikir atau cognitive
structure-nya.”
Gunarsa (1989:204) menjelaskan
tentang karakteristik remaja sebagai berikut:
1.
Mula-mula terlihat timbulnya perubahan jasmani.
2.
Perkembangan inteleknya lebih mengarah ke pemikiran
tentang dirinya, refleksi diri
3. Perubahan-perubahan dalam hubungan antara anak dan
orang tua serta orang lain dalam lingkungan dekatnya
4.
Timbulnya perubahan dalam perilaku, pengalaman dan
kebutuhan seksual
5.
Perubahan dalam harapan dan tuntutan orang terhadap
remaja
6. Banyaknya perubahan dalam waktu yang singkat
menimbulkan masalah dalam penyesuaian dan usaha memadukannya
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
remaja merupakan individu yang berada dalam masa perkembangan dan perubahan
baik secara fisik, psikis maupun sosial. Perkembangan dan perubahan yang
mencolok pada masa tersebut terjadi pada aspek fisik, sedangkan pada aspek
psikis dan sosial bergantung pada lingkungan di mana remaja berkomunikasi dan
berinteraksi.
Masyarakat merupakan kelompok manusia yang sudah cukup lama mengadakan
hubungan sosial dalam kehidupan bersama dengan diliputi oleh struktur dan sistem
yang mengatur kehidupan bersama serta adanya solidaritas dan kebudayaan di
antara mereka. (Sudarsono, 2004:123). Penjelasan tersebut mengandung arti bahwa
tidak ada seorang individu pun yang mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya
secara mandiri.
Anggota kelompok di dalam masyarakat biasanya terdiri dari berbagai macam
individu yang berbeda-beda dalam berbagai segi kehidupan. Dalam kenyataannya
sering terjadi hubungan individu dengan individu lain atau hubungan individu
dengan kelompok mengalami ketegangan yang disebabkan karena terdapat seorang
anggota kelompok di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mengganggu orang
lain. Pelanggaran hak orang lain di
dalam masyarakat yang sering terjadi menurut Sudarsono (2004:124) antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Delik-delik yang melanggar hak-hak orang lain yang
bersifat kebendaan, seperti pencurian, penggelapan dan penipuan.
2. Delik-delik yang menghilangkan nyawa orang lain,
seperti pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang
lain.
3. Perbuatan-perbuatan lain yang berupa delik hukum,
maupun yang berupa perbuatan anti sosial seperti gelandangan, pertengkaran.
Perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan keresahan sosial sehingga
kehidupan masyarakat tidak harmonis lagi dan jika ditinjau secara yuridis ternyata
perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku. Sudarsono (2004:124)
menjelaskan, “Kelakukan anak remaja yang melawan norma sosial dan bertentangan
dengan kaidah hukum yang berlaku biasanya disebut kenakalan remaja atau juvenile
delinquency”.
Selanjutnya Sudarsono (2004:32) menjelaskan tentang deskripsi kualitatif
tentang kenakalan remaja sebagai berikut:
Norma-norma hukum yang sering dilanggar oleh anak remaja pada umumnya
pasal-pasal tentang:
1.
Kejahatan-kejahatan kekerasan
a.
Pembunuhan
b.
Penganiayaan
2.
Pencurian
a.
Pencurian biasa
b.
Pencurian dengan pemberatan
3.
Penggelapan
4.
Penipuan
5.
Pemerasan
6.
Gelandangan
7.
Anak sipil
8.
Remaja dan Narkotika
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan remaja untuk
berperilaku baik atau kurang baik salah satunya adalah teman sebaya, karena remaja
cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan teman sebaya dibandingkan
keluarganya. Hurlock (1990:213) menjelaskan, “Pengaruh teman-teman sebaya pada
sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daripada
pengaruh keluarga.”
Perubahan dan tantangan
yang dihadapi remaja akan mempengaruhi perilakunya. Remaja yang memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi, mudah terangsang, emosi tidak stabil, kebersamaan yang
tinggi terhadap kelompok teman sebaya, mudah terpengaruh dan sebagainya akan
menjadikan perilaku remaja seperti mudah tersinggung, cepat marah, keinginan
yang kuat untuk mencoba hal-hal yang baru dan meniru perilaku teman-temannya.
Kenakalan remaja
merupakan topik yang sering dibicarakan oleh banyak pihak, karena dinilai tidak
sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Jika ditelaah maka dapat
disimpulkan bahwa terjadinya kenakalan remaja tidak terlepas dari berbagai
faktor yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam satu proses
perkembangan yang berkelanjutan. Daradjat (1983:113) menjelaskan:
Timbulnya kenakalan
remaja disebabkan kurangnya pendidikan agama, kurangnya pengertian tentang
pendidikan, kurang teraturnya pengisian waktu luang, tidak stabilnya keadaan
ekonomi, sosial dan politik, kemerosotan moral dan mental orang dewasa,
banyaknya film dan buku-buku yang kurang baik, pendidikan dalam sekolah yang
kurang baik, serta kurangnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan anak.
Hawari (1991:136)
menyatakan, “Terlalu banyaknya waktu luang dan tidak adanya kegiatan yang
produktif merupakan kondisi yang kurang baik bagi remaja.” Toruan (1985:139)
menyatakan, “Kejahatan dan kenakalan remaja erat kaitannya dengan waktu luang
dan hal tersebut dapat dihindari dengan mempersiapkan berbagai aktivitas waktu
luang.” Kemudian Prasetyo dalam Surat Kabar Kompas (No. 3 tahun 3, 1998) menegaskan
sebagai berikut:
Perilaku menyimpang
pada remaja antara lain disebabkan oleh terhambatnya keinginan mereka untuk
dapat mengisi waktu luangnya secara wajar. Salah satu penyebab hambatan itu
adalah kurang tersedianya fasilitas dan sarana untuk melakukan kegiatan waktu
luang yang bermanfaat.
Lebih lanjut Prasetyo dalam
Surat Kabar Kompas (No. 3 tahun 3, 1998) menjelaskan, “Dua faktor yang sangat
penting pengaruhnya terhadap timbulnya masalah psikososial di masa remaja yakni
faktor bagaimana remaja mengisi waktu luangnya dan pengaruh globalisasi.”
Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk
membesarkan, mendewasakan dan di dalamnya anak mendapatkan pendidikan yang
pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan tetapi
merupakan lingkungan paling kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak
yang belum sekolah. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan penting dalam
perkembangan anak. Jika suasana dan kondisi keluarga kurang baik, maka akan
berpengaruh pada perkembangan anak yang akan tidak baik juga. Oleh karena
sebagian besar waktu anak ada di dalam keluarga maka sepantasnya kalau
kemungkinan timbulnya kenakalan remaja juga berasal dari keluarga. Sudarsono
(2004:125) menjelaskan, “Keadaan keluarga yang dapat menjadi sebab timbulnya delinquency dapat berupa keluarga yang
tidak normal (broken home) dan
keadaan jumlah anggota keluarga yang kurang menguntungkan.”
Sunday, March 11, 2012
Hakikat Waktu Luang
Kata luang dapat diartikan sebagai, “Sesuatu yang kosong;
kelapangan.” Sedangkan padanan kata
luang yaitu senggang diartikan pula sebagai, “Tidak sibuk, terluang atau lapang
(tentang waktu).” Dengan demikian, waktu luang dapat diartikan sebagai waktu
yang kosong atau waktu yang menggambarkan saat tidak sibuk.
Berkenaan dengan pengertian waktu luang,
Sapora (1961:27) menjelaskan, “The word leisure derives from the
Latin, meaning ‘to be permitted’ and is defined in the dictionary as free,
unoccupied time during which a person may indulge in rest, recreation, and the
like.” Maksudnya kata leisure berasal dari bahasa Latin yang berarti
‘memperbolehkan’ dan didefinisikan dalam kamus sebagai bebas, waktu tidak
sibuk, yang seseorang lakukan untuk istirahat, rekreasi dan kesenangan.
Selanjutnya Marjono (1972:10)
menjelaskan, “Waktu senggang adalah waktu dimana tidak ada ikatan-ikatan yang
mengharuskan seseorang melakukan sesuatu kegiatan.” Kemudian Fischer (1974:17)
mendefinisikan waktu luang sebagai berikut: “Leisure is usually thought of as a
temporal concept, denoting the time not given to work, maintanance, and sleep
…” Maksudnya waktu senggang biasanya dianggap sebagai konsep mengenai waktu
yang berarti tidak digunakan untuk bekerja, pemeliharaan dan bukan tidur.
Selanjutnya Haryono (1978:51) menjelaskan, “Waktu senggang merupakan
suatu periode dimana orang atau individu tidak melakukan kegiatan-kegiatan atau
usaha-usaha guna kehidupan primernya.” Lebih lanjut Haryono (1978:33-34)
menjelaskan pengertian waktu senggang sebagai, “Waktu kosong pada saat mana orang dapat beristirahat, berekreasi, dan
sebagainya. Waktu senggang adalah waktu kelebihan atau waktu pada saat mana
orang relatif bebas untuk berbuat sesuatu.” Kemudian Murni dan Saputra (2000:2)
mendefinisikan waktu luang sebagai, “Waktu dimana orang bebas dari pekerjaan
rutin.” Lebih lanjut dijelaskan, “Esensi dasar dari waktu luang adalah tempo,
kemauan sendiri, fokus pada pemenuhan diri, dan mencari kepuasan diri.”
Beberapa pengertian waktu luang tersebut
di atas menggambarkan bahwa waktu senggang adalah waktu bebas bagi seseorang
untuk melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan keinginannya. Kegiatan-kegiatan
tersebut dilakukan di luar usaha-usaha untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dan
kebutuhan primernya, oleh sebab itu maka kegiatannya tanpa paksaan dan bersifat
sukarela.
Untuk mendapatkan
gambaran mengenai waktu luang yang dimiliki seseorang dan sekelompok orang,
Yoeti (1990:172) menjelaskan, “Ada tiga macam waktu luang yang kita kenal yaitu
1) after-work leisure, 2) week-end leisure, dan 3) holiday leisure time.”
a.
After Work Leisure
After work leisure time merupakan waktu luang setelah bekerja atau
melakukan aktivitas rutin setiap hari. Misalnya setelah seorang guru melakukan
aktivitas rutin mengajar di sekolah, maka setelah itu ia mempunyai waktu luang
dan ia berhak untuk melakukan kegiatan yang bebas sesuai dengan pilihannya,
seperti istirahat, memancing, atau melakukan kegiatan lainnya yang bukan
kegiatan utama.
b. Weekend Leisure
Weekend leisure merupakan waktu
luang yang dimiliki seseorang setelah bekerja atau melakukan aktivitas rutin
selama satu minggu. Biasanya waktu luang yang dimiliki selama dua hari yaitu
sabtu dan minggu, itupun bagi mereka yang bekerja pada instansi pemerintah dan
swasta yang memberlakukan 5 hari kerja. Sedangkan secara umum, masyarakat
menempatkan hari minggu sebagai waktu weekend leisure.
c.
Holiday Leisure
Waktu luang dapat dikelompokkan
berdasarkan jenis waktu dan kegiatannya. Sapora (1961:27) menggelompokkannya
dalam Tabel 1.2
TIME
|
Type
of Time
|
How
Used
|
|
Existence
|
Eat
Sleep
Bodily care
|
|
Subsistence
|
Work
|
|
Leisure
|
Play-Recreation
Rest
|
Berdasarkan Tabel 1.2 dapat dijelaskan bahwa waktu yang dimiliki setiap
individu terbagi dalam 1) waktu untuk kelangsungan hidup melalui aktivitas
makan, tidur, dan memelihara tubuh, 2) waktu untuk mencari nafkah hidup melalui
aktivitas kerja, dan 3) waktu luang melalui aktivitas bermain, rekreasi dan
istirahat.
Kegiatan pada
waktu senggang bagi setiap individu akan memberikan manfaat apabila
kegiatan-kegiatan yang dilakukannya bersifat positif dan berfungsi sebagai
sarana pengembangan diri. Kegiatan-kegiatan dalam waktu senggang ini bersifat
relaksasi, hiburan dan pengembangan diri.
Mengenai jenis kegiatan dalam
memanfaatkan waktu luang oleh Soekanto (1986:37) dijelaskan sebagai berikut:
1. Rekreasi keluarga
2. Olahraga
3. Permainan
4. Perkumpulan-perkumpulan sosial
5. Kesenian
6. Pendidikan untuk mendapatkan keterampilan / kursus
7. Kelompok-kelompok persahabatan
Berdasar
pada beberapa penjelasan mengenai waktu luang dan kegiatan-kegiatan di waktu
luang maka dapat dinyatakan bahwa dalam aktivitas di waktu luang mengandung
unsur bermain, rekreasi, olahraga, sosialisasi, seni, dan pendidikan.
Rekreasi sebagai Sarana Pemanfaatan Waktu
Luang
Aktivitas
yang dapat digunakan untuk mengisi waktu luang adalah rekreasi. Marjono
(1972:10) menjelaskan tentang rekreasi sebagai berikut: “Rekreasi adalah kegiatan
yang dikerjakan oleh seseorang atau secara bersama-sama dengan orang lain dalam
waktu-waktu senggang secara sadar serta sukarela untuk mendapatkan kesenangan,
kepuasan serta kesegaran pribadi dengan langsung dan segera.”
Sapora dan Mitchell (1961:115) yang dikutip dari Butler menjelaskan: “Recreation may be
considered as any form of leisure time experience or activity in which an
individual engages from choice because of the enjoyment and satisfaction which
it brings directly to him.” Maksudnya rekreasi dipertimbangkan sebagai bentuk
pengalaman di waktu luang atau aktivitas terpilih yang dilakukan oleh individu
untuk kesenangan dan kepuasan dirinya. Selanjutnya Bucher (1975:451)
menjelaskan tentang pengertian rekreasi sebagai berikut:
Recreation is concerned with those activities in which a
person participates during hours other than work. It implies that the
individual has chosen activities in which to voluntarily engage because of an
inner, self-motivating desire. Such participation gives him or her a satisfying
experience and develops physical, social, mental and/or esthetic qualities
contributing to a better existence.
Maksud penjelasan di atas, rekreasi adalah mengenai aktivitas yang
menunjukkan partisipasi seseorang selama di luar jam kerja. Hal itu menunjukkan
secara tidak langsung bahwa individu mempunyai pilihan aktivitas yang dilakukan
secara sukarela yang disebabkan oleh sesuatu dalam diri, motivasi dalam diri.
Seperti partisipasi untuk memperoleh suatu pengalaman yang memuaskan dan
pengembangan fisik, sosial, mental dan atau kualitas keindahan yang memberikan
kontribusi terhadap kehidupan.
Hurlock (1981:276) memberikan pengertian rekreasi sebagai, “An activity
that renews strength and refreshes spirits after toil anxiety.” Maksudnya
rekreasi adalah suatu aktivitas untuk memulihkan kekuatan dan menyegarkan
semangat mengalami ketegangan akibat kerja keras.
Berdasarkan pengertian-pengertian dari rekreasi tersebut di atas, maka
nampak ciri-ciri dari rekreasi itu sendiri. Ciri-ciri tersebut antara lain
rekreasi merupakan aktivitas, dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama,
dorongan melakukan untuk memperoleh kepuasan dan kesenangan, dilakukan dengan
sengaja, terprogram, dan dorongan melakukannya timbul dari diri sendiri.
Bucher
(1975:451) membagi ciri-ciri rekreasi menjadi lima , yaitu: “1) Leisure time, 2) Enjoyable,
3) Voluntary, 4) Constructive, dan 5) Nonsurvival.” Kelima ciri tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut: Pertama, leisure time yaitu dilakukan pada waktu
luang (senggang). Kedua, enjoyable maksudnya rekreasi dilakukan untuk
kesenangan. Ketiga, voluntary maksudnya rekreasi dilakukan atas kemauan
sendiri. Keempat, constructive maksudnya melalui kegiatan rekreasi dapat
membangun (mengembangkan) kemampuan dan kreativitas yang ada. Kelima, yaitu
nonsurvival maksudnya bahwa kegiatan rekreasi bukan merupakan kegiatan
petualangan, contohnya ekspedisi ke suatu pegunungan.
Ciri yang lebih lengkap dikemukakan oleh Meyer dan Brightbill (1964:32)
sebagai berikut:
Recreation can be identified by its many basic
characteristics among there are: 1) Recreation involves activity …, 2)
Recreation has no single form, this flexibility, in it self …, 3) Recreation is
determined by motivation that which determines the choice or moves the will of
a person to take a certain action is motivation, 4) Recreation is occurs in
unobligated time, 5) Engagement in recreation is entirely voluntary, 6)
recreation is universally practiced and sought, 7) Recreation is serious and
purposeful, 8) Recreation is flexible, 9) Recreation has by-products.
Maksud
penjelasan di atas yaitu rekreasi dapat diidentifikasi melalui berbagai
karakteristik dasar diantaranya adalah: 1) rekreasi melibatkan aktivitas, 2)
Rekreasi tidak memiliki bentuk permanen, bersifat fleksibel, 3) Rekreasi membutuhkan
motivasi yang menentukan pilihan atau penggerakan keinginan seseorang untuk
melakukan suatu aksi, 4) Rekreasi adalah terdapat dalam waktu yang tidak wajib,
5) Waktu yang digunakan dalam rekreasi bersifat sukarela, 6) Rekreasi bersifat
universal, 7) Rekreasi dilakukan dengan sungguh-sungguh, 8) rekreasi bersifat
fleksibel, 9) Rekreasi merupakan akibat.
Beberapa
penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang bermotif rekreasi
selalu dilakukan dalam waktu senggang, dilakukan secara sadar dan sukarela,
untuk mendapatkan kesenangan, serta mengandung unsur kreativitas. Oleh karena
itu rekreasi merupakan aktivitas yang tepat untuk dijadikan sarana pengisi
waktu luang.
Bermain
sebagai Sarana Pemanfaatan Waktu Luang
Kata
dasar bermain adalah main yang berarti, “Perbuatan untuk menyenangkan hati
(yang dilakukan dengan alat kesenangan atau tidak).” (Poerwadarminta,
1984:620). Sedangkan arti kata bermain itu sendiri oleh Poerwadarminta
(1984:620) dijelaskan sebagai, “Melakukan sesuatu (dengan alat dan sebagainya)
untuk bersenang-senang; berbuat sesuatu dengan bersenang-senang saja.” Dengan
demikian maka bermain dapat dinyatakan sebagai aktivitas yang memberikan rasa
senang dan bersifat hiburan.
Sukintaka
(1991:1) menyatakan bahwa, “Bermain merupakan kata kerja sedangkan permainan
merupakan kata benda. Individu bermain berarti individu mengerjakan suatu
permainan, sedangkan permainan merupakan sesuatu yang dikenai kerja
bermain.” Lebih lanjut Sukintaka
(1991:2) menjelaskan, “Peristiwa bermain itu merupakan peristiwa yang
bersungguh-sungguh, namun bermain bukanlah suatu kesungguhan.” Maksud kata kesungguhan di sini ialah
merupakan kegiatan untuk memperoleh penghidupan atau bermain untuk memperoleh
uang. Bigot dkk. (1950:272) menyatakan, “Bila bermain bertujuan untuk
memperoleh uang atau untuk perbaikan rekor bukan merupakan permainan
lagi.” Sukintaka (1991:3) menambahkan,
“Rasa senang bermain itu harus disebabkan karena bermain itu sendiri, bukan
karena sesuatu yang terdapat di luar bermain.”
Subscribe to:
Posts (Atom)
Diseminasi Pendidikan Berbasis Kasih Sayang
Pada abad ke-21, pendidikan menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks dan dinamis. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, serta keb...
-
Sepak bola merupakan jenis olahraga beregu yang dimainkan oleh 11 orang di lapangan dengan bola sebagai alat permainannya. Olahraga sepak ...
-
Kata dasar dari permainan adalah main. Kata main menurut Poerwadarminta (1984:620) berarti, “Perbuatan untuk menyenangkan hati (yang dilak...
-
A. Hakikat Olahraga 1. Pengertian Olahraga Olahraga merupakan salah satu kegiatan yang sudah dikenal dan sering dilakukan manusia. Berbag...