Sunday, September 18, 2011


PEDOMAN PRAKTIS

MEMANTAU STATUS GIZI ORANG DEWASA

PEDOMAN PRAKTIS

UNTUK
MEMPERTAHANKAN BERAT BADAN NORMAL BERDASARKAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT)

DENGAN GIZI SEIMBANG


(Suatu Cara Memantau Status Gizi Orang Dewasa
Melalui Penimbangan Berat Badan Secara Berkala )


PENTINGNYA MEMANTAU BERAT BADAN


Pembangunan Sumber Daya manusia (SDM) merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Perhatian utama adalah untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut berperan dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan di bidang kesehatan dan gizi.

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masa penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerjanya. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan oleh setiap orang secara berkesinambungan.

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.

Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.

Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan.

IMT SEBAGAI ALAT PEMANTAU BERAT BADAN

Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan normal, kurus atau gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa  berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

                                    Berat Badan (Kg)
IMT     = -------------------------------------------------------
                        Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)


Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defesiensi kalori ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategorigemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil penelitian dibeberapa negara berkembang.  Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:


Kategori
IMT
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat
< 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan
17,0 – 18,4
Normal

18,5 – 25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan
25,1 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat
> 27,0


Jika seseorang termasuk kategori :
1.      IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.
2.      IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.

Contoh cara menghitung IMT:

Eko dengan tinggi badan 148 cm, mempunyai berat badan 38 kg.  

38
--------------------           = 17,3
                   (1,48 X 1,48) m

Status gizi Eko adalah kurus tingkat ringan. Eko dianjurkan menaikkan berat badan sampai menjadi normal antara 41- 54 kg dengan IMT 18,5 – 25,0.



PERHATIAN !
Seseorang yang termasuk kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (KEK ringan) sudah perlu mendapat perhatian untuk segera menaikkan berat badan.

3.      IMT 18,5 – 25,0       : keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.
4.      IMT 25,1 – 27,0       : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat ringan.
5.            IMT > 27,0            : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat berat

Contoh cara menghitung :

Opong dengan tinggi badan 159 cm, mempunyai berat badan 70 kg. Maka IMT Opong adalah :  

70                                70                   
--------------------           =      --------      = 27,7
                   (1,59 X 1,59) m                    2,53

Berarti status gizi Opong adalah gemuk tingkat berat, dan Opong dianjurkan menurunkan berat badannya sampai menjadi 47- 63 kg agar mencapai berat badan normal (dengan IMT 18,5 – 25,0).

PERHATIAN !
Seseorang dengan IMT > 25,0 harus berhati-hati agar berat badan tidak naik. Dianjurkan untuk menurnkan berat badannya sampai dalam batas normal.


BADAN ANDA KURUS ?

Penyebab
Karena konsumsi energi lebih rendah dari kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan.

Kerugian
1.      Penampilan cenderung kurang menarik
2.      Mudah letih
3.      Resiko sakit tinggi, beberapa resiko sakit yang dihadapi antara lain : penyakit infeksi, depresi, anemia dan diare.
4.      Wanita kurus kalau hamil mempunyai resiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.
5.      Kurang mampu bekerja keras.

Cara Menaikkan Berat Badan
1.      Makanlah secara teratur 3 kali sehari dengan gizi seimbang
2.      Makanlah lebih banyak makanan sumber energi dan protein dari biasanya seperti roti, nasi, umbi-umbian, ikan, daging, tempe, tahu.
3.      Tetap berolahraga secara teratur
4.      Cukup istirahat

Perlu diketahui
Seseorang yang termasuk dalam kategori kurus dapat disebabkan oleh penyakit tertentu. Oleh kaena itu dianjurkan ntuk memeriksakan kesehatannya pada tenaga medis.

Tips
Agar dapat memantau IMT dengan baik, timbanglah berat badan anda secara teratur.

BERAT BADAN ANDA NORMAL ?

Bisa diwujudkan dengan mengkonsumsi energi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tubuh, sehingga tidak terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak, maupun penggunaan lemak sebagai sumber energi.
Keuntungan
1.      Penampilan baik.
2.      Lincah
3.      Resiko penyakit rendah.
Cara Mempertahankan Berat Badan Normal
1.      Pertahankan kebiasaan makan sehari-hari dengan susunan menu gizi seimbang.
2.      Pertahankan kebiasaan olah raga yang teratur dan tetap melakukan
3.      Kebiasaan fisik sehari-hari

 

ANDA KELEBIHAN BERAT BADAN ?

Penyebab
Kelebihan berat badan terjadi bila makanan yang dikonsumsi mengandung energi melebih kebutuhan tubuh. Kelebihan energi tersebut akan disimpan tubuh sebagai cadangan dalam bentuk lemak sehingga mengakibatkan seseorang menjadi lebih gemuk.

Kerugian
  1. Penampilan kurang menarik
  2. Gerakan tidak gesit dan lambat
  3. Merupakan faktor resiko penyakit:
·         Jantung dan pembuluh darah
·         Kencing manis (diabetes mellitus)
·         Tekanan darah tinggi
·         Gangguan sendi dan tulang
·         Gangguan ginjal
·         Gangguan kandungan empedu
·         Kanker
·         Pada wanita dapat mengakibatkan gangguan haid (haid tidak teratur, perdarahan yang tidak teratur), factor penyulit pada persalinan.
Cara Menurunkan Berat Badan Yang Dianjurkan
  1. Diet
·         Makan teratur (2 atau 3 kali sehari) dengan gizi seimbang.
·         Kurangi jumlah makanan terutama sumber energi
·         Kurangi makanan yang berminyak, berlemak atau bersantan karena memberikan energi yang tinggi.
·         Kurangi konsumsi gula dan makanan yang manis, karena makanan tersebut juga menghasilkan energi yang tinggi.
·         Makan banyak sayuran dan buah-buahan karena makan tersebut banyak mengandung serat.
·         Hindari minuman beralkohol karena merupakan sumber kalori dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

  1. Olah raga dan kegiatan fisik
·         Olahraga secara teratur selama ½ - 1 jam minimal 3 kali seminggu.
·         Pilihlah olah raga yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan.
·         Tingkatkan kegiatan fisik sesuai yang dilakukan sehari-hari.
Cara Menurunkan Berat Badan Yang Tidak Dianjurkan
·         Mengurangi jumlah konsumsi makanan sehari –hari secara drastis sehingga mengakibatkan pusing, lemas, keringat dingin atau gejala lainnya yang membahayakan kesehatan.
·         Menurunkan berat badan secara cepat, lebih dari 2 kg perbulan.
·         Mengandalkan makanan formula saja untuk menurunkan berat badan.
·         Menggunakan obat-obatan atau bahan penurun berat badan tanpa pengawasan tenaga medis. Beberapa obat dan bahan tersebut hanya menurunkan berat badan sementara dengan mengeluarkan cairan tubuh.

MENGENAL GIZI SEIMBANG 

Gizi seimbang adalah susunan hidangan sehari yang mengandung zat gizi dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk dapat hidup sehat secara optimal.

Zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk hidup sehat adalah: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Didalam tubuh, zat-zat gizi tersebut berfungsi sebagi sumber energi atau tenaga (terutama karbohidrat dan lemak), sumber zat pembangun (protein), terutama untuk tetap tumbuh dan berkembang serta untuk mengganti sel-sel yang rusak, sumber zat pengatur (vitamin dan mineral)

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari harus mengandung semua zat gizi tersebut. Makanan sumber energi terutama adalah: nasi, jagung, sagu, ubi, roti, dan hasil olahannnya. Makanan sumber zat pembangun misalnya: ikan, telur, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan, dan makanan sumber zat pengatur terutama sayur-sayuran dan buah-buahan.

Tips Hidup Sehat

·         Kalau anda kurus, makanlah secara teratur dengan gizi seimbang dan lebih banyak dari biasanya.
·         Kalau anda gemuk, makanlah secara teratur dengan gizi seimbang dan jumlahnya kurang dari biasanya.
·       Jika anda kurus atau kegemukan, konsultasikan kepada dokter atau ahli gizi untuk mengatur gizi seimbang.


MENGETAHUI KEBUTUHAN ENERGI SESEORANG

Agar manusia dapat tetap hidup dan bekerja seperti biasanya maka memerlukan energi yang biasa diukur dengan satuan kalori. Meskipun kita tidur dan tidak bekerja, energi tetap dibutuhkan untuk denyut jantung dan fungsi tubuh lainnya. Energi dapat diibaratkan sebagai bensin yang diperlukan oleh kenderaan agar dapat tetap berjalan.

Jumlah kebutuhan energi seseorang pada dasarnya berbeda tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, dan aktifitas seseorang. Sebagai contoh, seseorang laki-laki dewasa (20 – 59 tahun) dengan barat badan 62 kg, tinggi 165 cm dan aktifitas sedang membutuhkan energi kurang lebih 3000 kilo kalori, sedangkan bila wanita dewasa berat 54 kg tinggi 156 cm dengan aktifitas sedang membutuhkan 2250 kilo kalori. Apabila orang yang sama dengan aktifitas lebih berat, maka kebutuhan bagi laki-laki sebesar 3600 kilo kalori dan wanita 2600 kilo kalori.

Contoh Menu Dengan Energi 2500 kilo kalori, 2000 kilo kalori dan 1700 kilo kalori


Waktu

Jenis Hidangan

Ukuran Rumah Tangga Untuk
2500 kilokalori
2000 kilokalori
1700 kilokalori
Pagi
Nasi
2 sendok nasi
2 sendok nasi
1 sendok nasi
Daging bumbu semur
1 potong
1 potong
½ potong
Tumis kacang panjang + tauge
½ mangkok
½ mangkok
½ mangkok
Teh manis
1 gelas
1 gelas
1 gelas
10.00
Bubur kacang hijau
1 gelas
1 gelas
1 gelas
Siang
Nasi
3 sendok nasi
2 sendok nasi
1½ sendok nasi
Ikan goreng
1 potong
1 potong
1 potong
Tempe bacem
2 potong
1 potong
1 potong
Lalap
½ mangkok
½ mangkok
½ mangkok
Sayur asem
1 mangkok
1 mangkok
1 mangkok
Sambal tomat
1 sendok makan
1 sendok makan
1 sendok makan
Nenas
1 potong
1 potong
1 potong
16.00
Buah
-
-
1 potong
Malam
Nasi
3 sendok makan
2 sendok makan
1½ sendok makan
Pepes ayam
1 potong
1 potong
1 potong
Tahu balado
1 potong
1 potong
1 potong
Sayur bening bayam + jagung muda
1 mangkok
1 mangkok
1 angkok
Pepaya
1 potong
1 potong
1 potong
Keterangan :    untuk ukuran rumah tangga nasi digunakan sendok nasi (centong), bukan sendok makan


CARA MENENTUKAN IMT DENGAN GRAFIK.

1.      Tentukan titik berat badan tinggi badan anda pada masing-masing sumbu grafik.
2.      Tarik garis lurus dari titik yang menunjukkan berat badan sejajar dengan sumbu tinggi badan.
3.      Tarik garis lurus dari titik tinggi badan tegak lurus sejajar dengan sumbu berat badan.
4.      Angka pertemuan antara garis berat badan dan tinggi badan tersebut adalah nilai IMT anda.


Sunday, August 14, 2011

Membuat Alat Ukur dalam Olahraga


A.    Tes dan Pengukuran
Tes hampir tidak dapat dipisahkan dari pengertian pengukuran. Tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang menyangkut individu maupun kelompok. Berbagai kegiatan dalam kehidupan manusia seringkali membutuhkan adanya suatu tes dan pengukuran sebelum menentukan nilai terhadap suatu hal. Dalam penggunaannya tes merupakan serangkaian prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data guna menjelaskan hasil yang ingin diketahui baik secara deskriptif maupun evaluatif, seperti yang diungkapkan oleh Arikunto (1997:51) bahwa: “Tes merupakan prosedur sistematik dimana individual yang di tes direpresentasikan dengan suatu tes stimulasi jawaban mereka yang dengan menunjukkan ke dalam angka.”
Pengukuran dalam bidang keolahragaan merupakan bagian atau proses dari usaha pembinaan ke arah peningkatan prestasi yang maksimal. Dari hasil pengukuran dapat diperoleh informasi mengenai kekurangan-kekurangan atau kemajuan-kemajuan yang ada pada proses berlatih maupun belajar yang dilakukan. Pengukuran merupakan salah satu cara yang digunakan untuk membandingkan karakteristik individu dengan individu yang lainnya melalui suatu alat ukur yang berupa tes tertentu yang hasilnya dapat dinyatakan dalam bentuk angka atau kategori. Jadi sebelum mengambil keputusan tentang suatu masalah yang ingin diketahui terlebih dahulu harus diadakan pengukuran untuk memperoleh data yang obyektif yang bersifat kuantitatif. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Grounlund (1985:25) bahwa: “Measurment is the process of assigning numbers to individuals or their characteristic according to specific rules.” Maksudnya yaitu pengukuran adalah proses menetapkan peringkat untuk individu atau karakteristik mereka sesuai dengan aturan tertentu. Selain itu dijelaskan oleh Nurhasan (2000:08) adalah: “Pengukuran merupakan proses untuk memperoleh data atau informasi dari individu atau obyek.” Adapun menurut Arikunto (1997:139) adalah “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.”

B.     Fungsi Tes dan Pengukuran
Dalam dunia olahraga atau pendidikan olahraga, pengukuran dapat digunakan sebagai sarana untuk mengetahui perkembangan yang menyangkut kemampuan keterampilan dalam kegiatan belajar atau latihan, bahkan dengan pengetesan dan pengukuran akan diketahui kekurangan dan kemajuan serta keterampilan yang diperoleh dari hasil belajar atau latihan yang telah dilakukan. Jelas bahwa tes dan pengukuran memegang peranan yang penting dalam berbagai hal, baik dalam hal olahraga maupun bidang pendidikan. Jika suatu kegiatan tidak dibarengi dengan tes dan pengukuran, maka sulit untuk melihat kemajuan atau pun kekurangan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Nurhasan (1991:214) bahwa: “Bila suatu usaha tidak disertai dengan pengetesan dan pengukuran, maka sukar untuk dapat menyatakan adanya kekurangan ataupun kemajuan.” Adapun fungsi lain dari tes dan pengukuran, seperti yang dikemukakan oleh Nurhasan (1991:215-216) sebagai berikut:
a.       menafsirkan kemajuan para atlet
Pada permulaan latihan perlu diadakan tes awal latihan, kemudian berikan latihan-latihan yang telah disusun sesuai dengan program pembinaan olahraga, setelah beberapa minggu diadakan kembali pengetesan atau pengukuran mengenai hasil latihan yang telah diberikan
b.      Penentuan dan bimbingan
Adakan pengetesan dan pengukuran untuk mendapatkan beberapa kasus dari tiap-tiap atlet, berdasarkan hasil pengukuran tersebut akan memberikan bantuan dan petunjuk-petunjuk kepada para atlet agar dapat memahami dirinya, dengan demikian akan mempermudah dalam memberikan bimbingan untuk proses pembinaan selanjutnya.
c.       Pengelompokan kemampuan atlet
Penentuan atlet dalam tiap-tiap kelompok yang homogen dalam kecakapannya, akan mempermudah pelatih dalam memberikan instruksi dan memberikan bahan-bahan latihan untuk atlet binaannya, karena tidak semua atlet mempunyai kecakapan yang tinggi, ada pula atlet yang sangat lambat dalam perkembangannya dalam menguasai teknik yang di berikan. Untuk pengelompokan atlet tersebut diperlukan data yang obyektif, untuk mendapatkan data yang obyektif diperoleh dari hasil pengukuran.
d.      Pemberian motivasi dan dorongan
Setelah mengetahui setatus atlet dalam kelompoknya dengan pengetesan, pengukuran dan penilaian maka ia berusaha berlatih lebih giat lagi untuk mencapai kedudukan yang lebih baik. Dengan kata lain ia akan terasa ingin berlomba untuk menduduki ranking teratas.
e.       Pemberian instruksi
Untuk mengetahui apakah instruksi yang telah diberikan dapat diterima atau tidak, maka perlu memilih cara atau metode yang digunakan dalam memberikan instruksi atau cara-cara latihan yang lebih efektif. Dengan demikian perlu mengadakan pengetesan.
f.       Penelitian
Dari hasil pengetesan, pengukuran dan penilaian terhadap suatu aktivitas atau kegiatan, akan timbul masalah-masalah yang perlu diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian ini sangat berguna bagi peningkatan prestasi.

C.    Kriteria Tes
Sebelum memilih dan menggunakan suatu tes harus dipastikan terlebih dahulu bahwa tes tersebut telah dirakit (dikonstruk) secara alamiah dan memiliki beberapa macam kriteria yang telah disepakati oleh para ahli. Selain itu dalam pelaksanaannya pengukuran harus benar-benar teliti dan sesuai dengan apa yang hendak diukur.
Kriteria-kriteria dalam memilih tes akan memberikan petunjuk dan memberikan jalan dalam memilih suatu tes. Nurhasan (2000:25) menjelaskan, “Kriteria untuk memilih suatu tes yang baik akan memberikan gambaran yang sesungguhnya dari suatu obyek yang akan di ukur.” Untuk memilih suatu tes agar tes tersebut dianggap baik maka harus ada suatu kriteria. Kriteria yang dipakai dalam menilai suatu tes meliputi validitas, reliabilitas, obyektifitas, dan norma. Dari faktor-faktor tersebut yang paling utama yaitu faktor validitas dan reliabilitas. Nurhasan (2000:25) menjelaskan “Kriteria untuk mengukur suatu tes, dapat dipertimbangkan berdasarkan kriteria teknis dan kriteria pelengkap. Kriteria teknis meliputi kesahihan (validitas), keterandalan (reliability) dan obyektif (objektivity), sedangkan kriteria pelengkap meliputi pertimbangan aspek ekonomi, mudah dilaksanakan dan norma.”
Dilihat dari pendapat di atas ternyata bahwa validitas dan reliabilitas merupakan karakteristik sangat mendukung dalam pembuatan dan penentu suatu alat ukur yang baik dan tepat.
1.      Kesahihan (Validity)
Suatu alat tes dapat dikatakan valid apabilates tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak di ukur. Mengenai derajat kesahihan (validitas) suatu alat ukur, hal ini sesuai dengan Barrow dan Mcgee (1971:42) bahwa: “Validity is the most importance of the technical standars because it test the honesty of old test.” Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan mengenai jenis-jenis validitas sebagai berikut:
a.       Validitas isi (content validity)
Validitas isi menggambarkan derajat kesahihan suatu alat ukur atau tes yang berkualitas dengan isi atau materi yang diberikan. Suatu tes dikatakan mempunyai validitas isi apabila tes itu mengukur tujuan khusus tertentu sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Jadi tes tersebut benar-benar mencangkup materi atau bahan yang telah diberikan atau sesuai dengan ruang lingkup materi yang diajarkan.
b.      Validitas kontruksi (construct validity)
Sebuah tes dikatakan telah memiliki validitas kontruksi, apabila butir-butir tes yang membangun tes itu mengukur aspek-aspek yang terdapat dalam konsep itu. Butir – butir tes itu di susun berdasarkan unsur-unsur yang terdapat dalam konsep itu misalnya kebugaran jasmani terdiri dari komponen-komponen: daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, power, dan kelentukan. Maka tes kebugaran jasmani itu terdiri dari butir-butir tes yang terdiri dari butir-butir tes yang disusun atas dasar komponen-komponen tersebut yaitu tes daya tahan, tes kekuatan, tes kecepatan, tes kelincahan, tes power, dan tes kelenturan. Kesatuan dari butir-butir tersebut menggambarkan mengenai kebugaran jasmani seseorang.
c.       Validitas setara (concurrent validity)
Validitas ini lebih dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris apabila hasil tes itu sesuai dengan pengalaman. Hasil tes itu dibandingkan dengan tes standar, maka dikatakan bahwa tes valid, karena sesuai dengan standar, sebagai kriteria yang digunakan.
d.      Validitas prediksi
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan, apabila tes tersebut memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Misalnya tes masuk keperguruan tinggi (tes UMPTN) sebuah tes diperkirakan mampu meramalkan keberhasilan peserta tes dalam mengikuti kuliah di masa yang akan datang. Para calon yang diterima berdasarkan tes itu, diharapkan mencerminkan hasil belajarnya mencapai nilai yang baik dalam hasil belajarnya, sebaliknya yang bila mahasiswa tersebut pada akhir semester satu (misalnya) memperoleh nilai rendah dari mahasiswa lainnya yang skor / hasil ujian saringan masuknya lebih rendah, maka tes masuk tersebut dikatakan tidak memiliki validitas prediksi.
Adapun teknik yang digunakan untuk mencari kesesuaian atau kesejajaran suatu tes adalah teknik korelasi. Pendekatan teknik korelasi oleh Person yang di kutip oleh Arikunto (1997:67) dilakukan dengan dua cara yaitu: “1) teknik korelasi product moment dengan simpangan dan 2) teknik korelasi dengan angka kasar.” Berkaitan dengan penelitian ini, pendekatan teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi product moment.

2.      Keterandalan (Reliability)
Keterandalan ini menggambarkan derajat keajegan atau konsistensi hasil pengukuran. Suatu alat ukur atau tes dikatakan variabel jika alat pengukur itu menghasilkan suatu gambaran yang benar-benar dapat dipercaya dan dapat diandalkan untuk membuahkan hasil pengukuran yang sesungguhnya. Jika alat tersebut reliabel, maka pengukuran yang dilakukan berulang-ulng dengan memakai alat yang sama terhadap obyek dan subjek yang sama hasilnya akan tetap atau relatif sama. Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. (Arikunto, 1997:58).
Keterandalan suatu alat pengukur atau tes dapat diperoleh melalui tiga cara, hal ini diungkapkan oleh Nurkancana dan Sumartana (1982:126-127) bahwa:

a.       Keterandalan yang diperoleh melalui pengukuran ulang (Test-retest)
Untuk mengetahui besarnya derajat keterandalan suatu alat pengukur dapat dilakukan dengan dua kali cara pengukuran yaitu, pengukuran pertama dan ulangannya. Untuk pelaksanaan pengukuran ini harus diperhatikan bahwa proses pengukuran pertama hendaknya tidak mewarnai hasil pengukuran kedua, kondisi pelaksanaan pengukuran kedua (harus benar-benar) dalam keadaan yang tetap sama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang kedua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan kenyataan derajat keterandalan (reliabilitas) alat pengukur tersebut.
b.      Keterandalan yang diperoleh melalui teknik belah dua
Dalam teknik ini tes yang telah diberikan kepada sekelompok subyek dibelah menjadi dua bagian, kemudian tiap-tiap bagian diberikan skor secara terpisah, ada dua prosedur yang dapat dipergunakan untuk membelah dua tes yaitu, prosedur ganjil-genap, artinya seluruh item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu kelompok, dan seluruh item yang bernomor genap menjadi kelompok yang lain, dan prosedur secara random, misalnya dengan jalan lotre atau dengan menggunakan tabel bilangan random.
c.       Teknik bentuk paralel
Tes paralel atau tes ekuivalen adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan, tetapi butir-butir soalnya berbeda. Dalam metode bentuk paralel ini, dua tes yang paralel, misalnya tes yang pertama yang akan dicari reliabilitasnya dan tes kedua diteskan kepada kelompok atlet yang sama kemudian hasilnya dikorelasikan. Berkaitan dengan penelitian ini, maka untuk menguji keterandalan tes digunakan teknik test-retest.





3.      Obyektivitas (objektivity)
Batasan obyektivitas dijelaskan oleh Barrow dan Mcgee (1971:38) bahwa: “Objektivity is the first of the technical the standars to be considered”. Selain itu dijelaskan oleh Nurhasan (2000:35) bahwa: ”Objektivitas adalah derajat kesamaan hasil dari dua atau lebih pengambilan tes (testor)”.  
Obyektivitas dengan keterandalan pada dasarnya memiliki kemiripan dalam pengertiannya dalam definisi obyektivitas sama halnya dengan definisi keterandalan, hanya saja dari keduanya terdapat perbedaan serta persamaannya. Arikunto (1997:59) menjelaskan, “Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka obyektivitas menekankan ketetapan (consistency) pada sistem scoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.”

Sunday, July 10, 2011

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SMAN 26 Bandung Th. Pelajaran 2011/2012

MPLS SMAN 26 Bandung Th. Pelajaran 2011/2012 akan dibuka oleh Kepala SMA Negeri 26 Bandung pada hari Senin, 11 Juli 2011 di Lapangan Upacara SMAN 26 Bandung. Kegiatan MPLS akan dilaksanakan selama 3 hari dan dilanjutkan dengan LDKS selama 3 hari pula. Selamat Datang Siswa Baru ... Selamat Datang Semangat Baru ... 

Thursday, May 19, 2011

Lulus 100%

Selamat atas kelulusan siswa - siswi SMA Negeri 26 Bandung ... semoga sukses selalu ...

Sunday, May 15, 2011

Pengumuman Kelulusan Ujian Nasional Th. Pelajaran 2010/2011

5 Orang Siswa SMA/SMK di Bandung Tidak Lulus UN
Avitia Nurmatari - detikBandung
Bandung - Sebanyak lima orang siswa di Kota Bandung dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) 2011. Lima orang tersebut terdiri dari tiga orang siswa SMA dan dua orang dari SMK.

"Tahun ini kelulusan SMA mencapai 99,98 sedangkan SMK mencapai 99,9 persen, sementara untuk MA itu 100 persen," ujar Kabid SMA/SMK Dinas Pendidikan Kota Bandung Dedy Dharmawan, kepada detikbandung saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (15/5/2011).

Untuk siswa yang tidak lulus tersebut, disarankan untuk mengikuti ujian Paket C, karena tidak ada ujian ulangan seperti tahun lalu.

"Tahun lalu kan yang tidak lulus ada 874, setelah mengikuti ujian ulangan hanya 1 orang yang tidak lulus. Kalau sekarang tidak ada ujian ulangan. Kalau dari penelusuran nilainya positif tidak lulus, ya tidak lulus saja," tegas Dedy.

Hasil UN tersebut akan disebarkan melalui Pos kepada siswa SMA, SMK, dan MA di Bandung pagi hari, diharapkan sudah bisa diterima oleh para siswa siang hari. "Ya ditunggu saja sampai sore," kata Dedy.

Karena akan disebarkan melalui Pos, Dedy mengimbau kepada para siswa untuk tidak mencari info kelulusan ke sekolah. "Apalagi besok kebijakan di Kota Bandung besok itu hari libur. Jadi tidak perlu ke sekolah, tunggu saja di rumah," pungkasnya.


Pengumuman Kelulusan siswa SMA Negeri 26 Bandung akan disampaikan melalui POS ... 



Wednesday, April 13, 2011

Perilaku Sosial

Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk individu, disamping itu juga merupakan mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, ia unik, memiliki kekhasan masing-masing. Sebagai mahluk sosial, ia tetap bergantung pada lingkungan sosial di sekitarnya. Kelangsungan hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya.
Di dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi, manusia tidak dapat melakukannya sendiri, tetapi memerlukan bantuan pihak-pihak lain. Ada saling ketergantungan satu sama lain, dalam upaya memenuhi kebutuhan. Dengan kata lain, kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling mendukung kebersamaan. Suasana saling ketergantungan itu, merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia. Ibrahim (2001:3) menyatakan, “Perilaku saling bergantung itu disebut perilaku sosial.”
Perilaku seseorang tidak cukup hanya tertuju pada kepentingan diri pribadi. Ia harus mampu bekerja sama, toleran, sabar, tidak mengganggu kepentingan orang lain, murah hati, dan ia diharapkan dapat menerima norma-norma masyarakat, sehingga dapat menjalankan tatanan masyarakat. Chaplin (1975) yang dikutip Ibrahim (2001:4) menjelaskan, “Perilaku sosial yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, merupakan perilaku kelompok dan perilaku yang berada di bawah kontrol masyarakat.”
Ballachey (1982) yang dikutip Ibrahim (2001:4) mengemukakan, “Perilaku social seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang. Perilaku itu dinyatakan dalam hubungan timbal balik antar pribadi.”
Perilaku sosial merupakan sifat yang relatif untuk menanggapi orang lain dengan cara-cara yang berbeda, misalnya ada orang yang memiliki sifat pemurah dalam bekerjasama, atau penyabar dan tenang dalam menanggapi reaksi penolakan yang keras dari pihak lain. Sementara itu ada pula orang yang menunjukkan perilaku bermusuhan, baik dalam ucapan yang menyakitkan perasaan orang atau bahkan tindakan meresahkan orang lain. Semua itu merupakan contoh pola perilaku yang melibatkan interaksi antar individu.
Baron dan Byrne (1991) yang dikutip oleh Ibrahim (2001:5) menjelaskan, “Ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang yaitu: 1) perilaku dan karakteristik orang lain, 2) proses kognitif, 3) faktor lingkungan dan 4) tata latar budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi.”
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka dapat dinyatakan bahwa perilaku dan karakteristik orang lain dapat mempengaruhi perilaku sosial seseorang, misalnya jika seseorang biasa bergaul dengan orang-orang yang penyabar, ada kemungkinan sedikit banyak ia akan terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya itu. Begitu pula ingatan dan pikiran yang mendasari kesadaran sosial seseorang termasuk keyakinan, ide dan pertimbangannya tentang orang lain berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Misalnya seseorang yang tekun memikirkan bagaimana caranya mengalahkan orang lain dengan cara apa saja dalam upaya meraih kemenangan, maka ia akan cenderung berperilaku sosial seperti itu.
Lingkungan alam kadang kala dapat mempengaruhi perilaku sosial seseorang yang sulit diterima oleh kelompok etnis tertentu. misalnya  seseorang yang berasal dari daerah pelosok terpencil yang biasa berbicara keras dan kasar, tentu berperilaku sosial yang terasa kasar, ketika berada di lingkungan masyarakat yang terbiasa halus dan lembut.
Perilaku sosial seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akan terasa aneh atau kurang diterima, ketika ia berada dalam masyarakat yang memiliki budaya lain. Jadi, konteks budaya amat mempengaruhi kecenderungan sosial seseorang.
Di samping itu, aspek biologis yang ada kaitannya dengan perilaku sosial, juga akan berpengaruh terhadap perilaku  sosial dan kepribadiannya. Faktor genetis dan cacat fisik misalnya, mempengaruhi kecenderungan perilaku sosial tertentu. Seseorang yang memiliki kelainan fisik yang tidak lazim sebagai akibat dari faktor genetisnya, cenderung akan memiliki kecenderungan perilaku sosial yang aneh pula. Penyandang cacat, baik cacat fisik, maupun mental, juga bisa memiliki kecenderungan perilaku sosial dan kepribadian yang agak berbeda dibandingkan dengan orang-orang yang normal.
Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial pada diri seseorang, pada dasarnya menyatu dalam keseluruhan kepribadiannya. Perilaku sosial ini muncul, ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Dalam kehidupan berkelompok, biasanya tampak kentara kecenderungan perilaku sosial yang dimiliki oleh para anggotanya. Perilaku   sosial ini perlu dibina ke arah yang positif, bersama-sama dengan aspek-aspek kepribadiannya yang lainnya. Perilaku   sosial ini amat diperlukan dalam proses penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Bentuk-bentuk dan jenis perilaku sosial ini, dapat dilihat melalui sifat-sifat dan pola respons antar pribadi. Ibrahim (2001:24) menjelaskan, “Ada 12 sifat respons antar pribadi yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yang dapat berubah-ubah yaitu: kecenderungan perilaku peran, kecenderungan perilaku dalam hubungan sosial, kecenderungan perilaku ekspresif.” (bersambung).

Diseminasi Pendidikan Berbasis Kasih Sayang

Pada abad ke-21, pendidikan menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks dan dinamis. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, serta keb...